Data Airspeed Kapten dan Kopilot Berbeda

Fachri Audhia Hafiez    •    Selasa, 06 Nov 2018 17:12 WIB
Lion Air Jatuh
Data <i>Airspeed</i> Kapten dan Kopilot Berbeda
Tim SAR gabungan mengevakuasi turbin pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Foto: Antara/Jaya Kusuma.

Tanjung Karawang: Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebut informasi tentang kecepatan pesawat di udara atau airspeed Lion Air PK-LQP berbeda antara kapten dan kopilot. Hal itu membuat informasi yang tak tepat soal kecepatan pesawat kepada pilot (unreliable speed).

"Jadi airspeed-nya terjadi perbedaan antara kiri dan kanan. Kan di pesawat itu ada captain side sama co-pilot side. Nah itu yang dari empat penerbangan terakhir termasuk yang celaka itu kita mengamati ini kok terjadi unreliable speed di indikatornya," kata Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono di KRI-Banda Aceh 593, Selasa, 6 November 2018.

Menurut dia, pihaknya masih menyelidiki komponen yang diduga sempat bermasalah selama empat kali penerbangan sebelum insiden kecelakaan di Tanjung Karawang, Jawa Barat. Namun, dia masih belum bisa menyimpulkan secara detail.

"Step by step yang harus kita laksanakan dalam investigasi termasuk kalau ada keanehan sedikit aja kita menggalinya usahanya cukup luar biasa," kata dia.

Bila pilot mengalami masalah saat sebelum penerbangan, lanjut Soerjanto, akan tertulis pada maintenance log. "Kalau ada keluhan ditulis dari pilot. Kalau enggak dia jawab dan melakukan apa pun pasti pilotnya enggak akan mau terbang," jelas dia.

Baca: Penumpang Lion Air PK-LQP asal Cirebon Dimakamkan

Kendati demikian, KNKT juga akan meminta keterangan dari teknisi dan pilot pesawat yang menerbangkan pesawat Lion Air PK-LQP sebelumnya. Hal ini guna mencari titik terang penyebab kecelakaan pada Senin, 29 Oktober 2018.

"Kita lagi bicara ke pabriknya dengan teknisinya dengan pilot yang menerbangkan sebelumnya untuk menggali data untuk mencari tahu kenapa penyebabnya. Tapi, itu salah satu dari item yang kita harus cek," ungkap Soerjanto.





(OGI)