SNMPTN/SBMPTN 2019

UTBK Tekan Potensi Drop Out

Intan Yunelia    •    Jumat, 11 Jan 2019 17:58 WIB
SNMPTN/SBMPTN 2019
UTBK Tekan Potensi <i>Drop Out</i>
Sejumlah peserta mengikuti ujian tulis berbasis komputer Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), ANT /Indrianto Dwi Suwarso.

Jakarta:  Sistem Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang akan diterapkan dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019 dinilai menguntungkan para calon mahasiswa.  Sistem ini memberikan transparansi, meningkatkan efisiensi mekanisme seleksi penerimaan calon mahasiswa dan juga meminimalisir potensi drop out.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pandu Baghaskoro mengatakan, dengan mengizinkan calon mahasiswa mengetahui kemampuan akademis dan skolastik, mereka dapat terbantu untuk mengenali minat dan bakat yang sesungguhnya. Sehingga dapat mengambil keputusan dengan lebih baik mengenai program studi atau Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang akan mereka tuju. 

Sistem penerimaan di PTN juga akan lebih mudah dan relatif terhindar dari kecurangan karena menggunakan sistem IT.  Seharusnya penerapan sistem ini akan membuat pelaksanaan UTBK lebih cepat dan mudah. Namun pemerintah harus memastikan infrastruktur IT-nya sudah siap di semua tempat pelaksanaan ujian. 

"Satu hal lagi yang harus dipastikan adalah kesiapan sumber daya manusia yang mengawal jalannya ujian ini,” jelas Pandu.

Baca: Pendaftaran SNMPTN 2019 Dibuka Bulan Depan

Selain itu, peserta ujian dapat mengulang ujian hingga dua kali. Hal ini memberikan mereka kesempatan untuk mendaftarkan diri di PTN / program studi tujuan dengan nilai yang lebih baik. Ini tentu membuka kesempatan yang lebih lebar bagi calon mahasiswa untuk bersaing dengan kemampuan terbaiknya.

Melakukan ujian dengan metode paperless (berbasis komputer) seperti ini, lanjut Pandu, akan mengurangi beban peserta ujian. Sistem ujian tertulis yang menggunakan Lembar Jawaban Komputer (LJK) bisa jadi sebuah pemicu stress bagi peserta ujian, karena aktivitas mengarsir lingkaran cukup menguras energi. 

Ditambah lagi, seringkali peserta merasa khawatir, apakah arsiran yang dibuat dapat terbaca komputer atau tidak. Hal ini tentu menambah beban peserta ujian. Sistem paperless ini tentunya akan lebih ramah lingkungan dengan menghemat kertas.


(CEU)