Laboratorium Batan Hasilkan Produk Pengobatan

Tri Kurniawan    •    Rabu, 15 Nov 2017 15:34 WIB
puspiptek
Laboratorium Batan Hasilkan Produk Pengobatan
Produk medis yang dihasilkan Batan. Foto: Metrotvnews.com/Tri Kurniawan

Tangerang Selatan: Laboratorium Radioisotop dan Radiofarmaka milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengasilkan produk medis. Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto berharap masyarakat bisa memanfaatkan sebaik mungkin hasil penelitian ini.

Djarot mengatakan, hulu laboratorium Radioisotop adalah reaktor nuklir. Batan memiliki tiga reaktor nuklir. Reaktor tersebut menghasilkan Radioisotop untuk diagnosis dan pengobatan di beberapa rumah sakit, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

"Kita juga punya laboratorium yang masih kecil, sudah menghasilkan lima produk Radiofarmaka yang sudah diedarkan PT Kimia Farma," kata Djarot saat peresmian pembangunan fasilitas Iradiator Gamma Merah Putih dan laboratorium Radioisotop Radiofarmaka di gedung Iradiator Gamma Merah Putih, kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Rabu 15 November 2017.

Produk laboratorium Radioisotop dan Radiofarmaka, yakni:

1. Kit MDP (Methylene Diphosphonate). Kegunaannya untuk diagnosis kanker tulang.

2. MIBI (Methoxyisobutylisonitrile) untuk diagnosis kanker tiroid. Senyawa bertanda 131 I-MIBG (Metaiodobenzylguanidine) untuk diagnosis dan terapi neuroblastoma.

3. 153 Sm EDTMP (Ethylenediamine Tetramethylene Phosphoric acid) untuk terapi paliatif pada penderita kanker yang sudah mengalami metastasis ke tulang.

4. MIBI (Methoxyisobutylisonitrile) untuk diagnosis mendeteksi penyakit arteri koroner dan mengevaluasi fungsi myocardial.

5. DTPA (Diethylenetriaminepentaacetate) untuk diagnosis ginjal, menilai perfusi ginjal dan menentukan GFR (glomerular filtration rate).



Semua produk tersebut sudah diproduksi secara komersial dalam skala pilot dan sudah mendapatkan nomor izin edar (NIE).

"Semoga dengan laboratorium baru ini skalanya lebih luas. Dua produk ini perlu kita promosikan. Semoga masyarakat bisa memanfaatkan teknologi seluas- luasnya," ujar Djarot.

Djarot selalu teringat arahan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla di beberapa kesempatan bahwa lembaga penelitian jangan menjadi seperti museum. Peneliti jangan hanya melihat masa lalu, karena hasil penelitian untuk masa depan.

"Mudah-mudahan peneliti menjadikan ini cambuk untuk bergerak mencari kreativitas," terangnya.


(TRK)

MKD Tunda Pembahasan Nasib Novanto di DPR

MKD Tunda Pembahasan Nasib Novanto di DPR

6 hours Ago

Salah satu yang akan dibahas dalam rapat MKD itu adalah status Setya Novanto sebagai kasus koru…

BERITA LAINNYA