BJHTA Ke-11

Eniya, Wanita Pertama Peraih BJ Habibie Technology Award

Intan Yunelia    •    Selasa, 10 Jul 2018 17:22 WIB
Penghargaan Riset
Eniya, Wanita Pertama Peraih BJ Habibie Technology Award
Eniya Listiani Dewi (tengah), penerima Anugerah Bacharuddin Jusuf Habibie Technology Award (BJHTA) ke-1, Humas Kemenristekdikti.

Jakarta: Anugerah Bacharuddin Jusuf Habibie Technology Award (BJHTA) ke-11 tahun ini diberikan kepada Prof. Dr. Eng-Eniya Listiani Dewi, B.Eng., M.Eng.  Perempuan pertama peraih BJHTA ini telah berhasil mengembangkan teknologi Fuel Cell dengan metode electron transfer.

Teknologi ini menggunakan bahan baku lokal, dapat dipasang pada motor juga back up power untuk berbagai peralatan. Proses produksi gas hidrogen telah dikembangkan dari limbah biomassa dengan bahan baku limbah dari industri kelapa sawit.

Eniya dalam keterangan tertulis menerangkan kelangsungan hidup manusia dan keberlanjutan peradaban memerlukan energi, dan banyak negara yang sudah menghapuskan sumber energi konvensional dan beralih ke Energi Baru Terbarukan.

"Saya harap temuan Energi Baru Terbarukan (EBT) saya ini dapat lebih ekonomis," kata Eniya di sela-sela penganugerahan BJHTA ke-11 di Auditorium BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa, 10 Juli 2018.

Seperti diketahui, kata Eniya, EBT diharapkan mencapai 23 % pada 2025, namun saat ini baru 13%. Sehinga perlu dipertanyakan, apa saja dalam 7 tahun ini yang dapat Indonesia lakukan memenuhi target tersebut.

"Pemerintah perlu mendorong inovasi ini, dan dengan dibangunnya pembangkit listrik tenaga EBT merupakan bentuk concern pemerintah,” jelasnya.

Baca: Kurang Terekspos, Indonesia Krisis Sosok Ilmuwan Inspiratif

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir dalam kesempatan yang sama mengatakan inovasi berbasis riset harus dihilirisasi dan dikomersialisasikan agar memiliki nilai tambah. Lebih dari itu penelitian terapan berbasis output yang dapat memberikan solusi atas permasalahan saat ini secara praktis juga harus didorong.

"Para peneliti dan akademisi harus mempublikasikan hasil penelitiannya dan menghasilkan inovasi sehingga bermanfaat bagi masyarakat luas," imbau Nasir

Menurut nasir, Indonesia memiliki lebih dari 5.400 riset yang telah dipublikasikan, jumlah ini terus meningkat per Juli lalu. "Saat ini kita telah mampu bersaing dengan negara tetangga seperti Thailand, Singapura dan Malaysia," sebut Nasir.

Namun menurut Rektor Terpilih Universitas Diponegoro (Undip) ini, riset yang bermanfaat adalah riset yang dipublikasikan dan menghasilkan inovasi. Oleh karena itu riset harus didorong dari inovasi menjadi output, "Jangan sampai riset berhenti sampai publikasi saja,” ucapnya.

Sementara itu Presiden Republik Indonesia ke-3, Bacharuddin Jusuf Habibie mengatakan, Indonesia harus fokus membangun sumber daya manusia.  Pambangunan SDM bertujuan menciptakan ilmuan-ilmuan muda generasi penerus yang memiliki daya saing tinggi dan inovatif menuju kemandirian bangsa mengembangkan teknologi.

“Apabila kita ingin maju seperti bangsa lain, tapi hanya mengandalkan sumber daya alam saja, forget it,” tegas Habibie.

Kepala BPPT Unggul Priyanto menuturkan bahwa penghargaan BJHTA adalah salah satu upaya BPPT untuk memberikan dorongan timbulnya hasrat inovasi dan penciptaan teknologi kepada pelaku teknologi.

“Penghargaan Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie adalah pemberian penghargaan tertinggi dari BPPT, diberikan kepada insan pelaku teknologi yang berjasa pada bangsa dan negara.  Selain itu juga harus memiliki reputasi nasional dalam bidang teknologi.

"Juga menghasilkan karya nyata yang memberikan impact pada bidang teknologi yang menghasilkan inovasi," terang Unggul.
(CEU)