BPOM: PCC Mulai Kembali Beredar pada 2016

Damar Iradat    •    Selasa, 05 Dec 2017 13:56 WIB
pil maut pcc
BPOM: PCC Mulai Kembali Beredar pada 2016
Ilustrasi PCC/ANT/Dewi Fajriani

Jakarta: Izin edar carisoprodol, salah satu zat yang terkandung dalam pil PCC dicabut sejak 2013. Direktur Bidang Pengawasan Distribusi Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Hans G Kakerissa menjelaskan salah satu kandungan dalam PCC itu awalnya lumrah digunakan sebagai zat dalam obat-obatan.

"Dulu sebelum 2013 produk ini masih legal, kemudian setelah dicabut izinnya, sekitar 2016-2017, mulai beredar lagi di beberapa wilayah. Disalahgunakan untuk obat kuat, halusinasi," ungkap Hans kepada Medcom.id, Selasa, 5 Desember 2017.

Hans menjelaskan PCC yang juga mengandung paracetamol dan caffein sedianya bisa digunakan untuk analgetik, obat penghilang rasa sakit. Bila tepat digunakan, zat tersebut bisa menenangkan dan memungkinkan seseorang tetap kuat beraktivitas dalam kondisi tertentu.

"Dulu sekadar sakit kepala bisa konsumsi itu atau baru selesai bedah bisa beraktivitas dalam kondisi yang lebih baik. Mirip obat-obat sakit kepala pada umumnya," beber Hans.

Seperti dilansir situs resmi BPOM, carisoprodol dapat memberi efek relaksasi otot. Obat itu menimbulkan efek samping bersifat sedatif dan euforia. Pada dosis di atas dosis terapi, carisoprodol dapat menyebabkan kejang dan berhalusinasi, serta menimbulkan efek lain yang membahayakan kesehatan hingga kematian.

Pada 2013, semua obat yang mengandung carisoprodol, carnophen, somadril, new skelan, carsipain, carminofein, etacarphen, rheumastop, cazerol, bimacarphen, dan karnomed dicabut izin edarnya.

Hans meyakini produksi PCC ilegal yang kini beredar tak hanya mengandung paracetamol, caffeine, dan carisoprodol. Bahan-bahan lain yang lebih berbahaya bisa saja dicampurkan dalam PCC.

"Kalau yang ilegal itu bisa dicampur apa saja, suka-suka mereka. Kita kan enggak mengerti. Makanya sangat berbahaya karena produsennya tidak mengerti soal kefarmasian, proses produksinya juga tidak tahu seperti apa, bahan baku juga tidak jelas," terang dia.

Peredaran pil PCC kembali terungkap setelah Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polda Jawa Tengah menggerebek sejumlah pabrik PCC di Jawa Tengah, Minggu, 3 Desember 2017. Lokasi pabrik berada di Semarang, Solo, dan Sukoharjo.

Pabrik PCC di Kota Solo telah memproduksi 50 juta pil sejak pertama beroperasi Januari 2017. Satu tablet PCC dijual Rp4-5 ribu. Peredaran pil PCC menjangkau banyak daerah, seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Sulawesi, NTB, dan DKI Jakarta.

Pada pertengahan September 2017, puluhan anak berusia 15-22 tahun dilarikan ke sejumlah rumah sakit di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Mereka mengalami gejala gangguan mental setelah mengonsumsi obat-obatan, seperti somadril, tramadol, dan PCC. Ketiga jenis obat itu dicampur dan diminum secara bersamaan menggunakan minuman keras oplosan.


(OJE)

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

23 hours Ago

Pengacara terdakwa kasus korupsi KTP-el Setya Novanto, Maqdir Ismail menuding dakwaan milik KPK…

BERITA LAINNYA