Menteri PPPA: NTT Zona Merah Perdagangan Manusia

Antara    •    Kamis, 23 Nov 2017 14:32 WIB
perdagangan manusia
Menteri PPPA: NTT Zona Merah Perdagangan Manusia
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana S Yembise--Metrotvnews.com/Riyan Ferdianto

Kupang: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana S Yembise mengatakan Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk dalam zona merah "human trafficking" atau perdagangan manusia. Yohana tengah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, serta aparat penegak hukum untuk secepatnya melakukan pencegahan sejak dini. 

"Provinsi Nusa Tenggara Timur selalau menjadi perhatian khusus kami soal perdagangan manusia karena sudah masuk dalam zona merah," kata Yohana dalam keterangan pers yang diterima Antara dari Humas Kementerian PPPA di Kupang, Kamis 23 November 2017.

Baca: Faye Hasian, Remaja Indonesia Berjuang Melawan Perdagangan Manusia

Yohana mengatakan, peran orangtua dan guru juga sangat dibutuhkan untuk mencegah kasus perdagangan manusia. Caranya dengan tetap mengawasi pergerakan putra atau putrinya.

"Khususnya kepada kaum perempuan dan anak-anak perempuan di bawah umur. Merekalah yang sering menjadi target dari orang-orang yang tak bertanggung jawab," ujarnya.

Yohana telah mempelajari berbagai kasus perdagangan manusia di beberapa negara di Asia seperti Brunei Darusallem, Malaysia, China dan Korea.

Baca: Wanita asal Bekasi Dicokok Polisi karena 'Berdagang Manusia'

Menurutnya, sering terjadi kasus-kasus kekerasan seksual kepada anak-anak di bawah umur. Di antara para korban tersebut ada juga anak-anak dari NTT yang dijadikan sebagai budak seksual.

Di samping masalah perdagangan manusia, yang menjadi sorotan Menteri asal Papua tersebut adalah kasus kekerasan terhadap perempuan. Ia mengatakan NTT merupakan salah satu dari lima provinsi di Indonesia yang masuk dalam daftar angka kejahatan terhadap perempuannya tinggi.

"Empat provinsi lainnya adalah NTB, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. NTT justru menempati urutan pertama. Ini sangat memprihatinkan," tambahnya.



(YDH)