Masalah Yerusalem Dilema Semua Agama

Dheri Agriesta    •    Rabu, 13 Dec 2017 12:54 WIB
israel palestinadonald trumppalestina israel
Masalah Yerusalem Dilema Semua Agama
Wakil Presiden Jusuf Kalla - ANT/Wahyu Putro A.

Jakarta: Pengakuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel menuai kecaman banyak pihak. Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut, masalah ini merupakan dilema seluruh agama.

Pernyataan itu disampaikan saat membuka Religion for Peace Asia Interfaith Youth Peace Camp 2017 di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu, 13 Desember 2017. Acara ini dihadiri perwakilan pemuda dari seluruh agama di Asia.

Kalla mengatakan, seluruh agama selalu mengucapkan salam damai sebagai sapaan awal. Tapi, konflik selalu terjadi di antara masyarakat.

Demonstrasi pun terjadi di beberapa negara terkait pengakuan Presiden Trump. "Ini dilema buat seluruh agama, ini dilema untuk kita, ini sangat penting untuk kalian (anak muda) pahami," kata Kalla dalam sambutan.

Yerusalem merupakan kota suci buat tiga agama, Islam, Kristen, dan Yahudi. Tak jarang, konflik pecah di kota suci ini karena salah satu pihak ingin mengakui Yerusalem sebagai milik mereka.

(Baca juga: Iran Sebut Pengakuan Yerusalem Percepat Kehancuran Israel)

Cendekiawan Azyumardi Azra mengamini pernyataan Kalla. Meski memiliki kebiasaan untuk saling mendoakan kedamaian, tetap saja terjadi konflik di Yerusalem.

"Oleh karena itu, pak wapres menyarankan berkali kali bahwa diskusi, konferensi, seminar boleh tapi yang lebih penting lagi implementasinya," kata Azyumardi.

Konferensi dan seminar tak akan berguna jika hasilnya tak diterapkan. Perdamaian, kata dia, harus diwujudkan melalui sikap dalam kehidupan sehari-hari.

"Bagaimana perdamaian itu diwujudkan, diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Itu saja pesan pertama dari pak wapres," kata Azyumardi.

Kegiatan Religion for Peace Asia Interfaith Youth Peace Camp 2017 digagas jaringan pemuda lintas agama Asia Pasifik. Kegiatan ini adalah kegiatan keempat yang dilakukan.

(Baca juga: Pakar Politik: Trump Berbahaya bagi Dunia yang Damai)

 


(REN)