Keuntungan Indonesia Menjadi Tuan Rumah IMF World Bank Annual Meeting

Pelangi Karismakristi    •    Senin, 16 Jul 2018 11:22 WIB
Berita Kominfo
Keuntungan Indonesia Menjadi Tuan Rumah IMF World Bank Annual Meeting
Presiden Joko Widodo dan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim (Foto: AFP/ Gagah Adhaputra)

Jakarta: Bali akan menjadi tuan rumah IMF World Bank Annual Meeting pada Oktober 2018. Sebelum hari H, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim berkunjung ke Indonesia untuk memberikan dukungan sejumlah persiapan.

"Saya datang ke sini untuk mendorong dan mendukung beberapa hal yang telah dilakukan oleh masyarakat Indonesia, yang akan menjadi teladan bagi seluruh dunia," ucap Kim, dalam program Prime Talk Metro TV yang tayang Rabu malam, 12 Juli 2018.

Kim yakin dengan diadakannya Pertemuan IMF Bank Dunia pada 9-14 Oktober 2018, akan meningkatkan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat lokal. Sebab nantinya akan hadir belasan ribu delegasi dari 189 negara yang akan membelanjakan uangnya. 

"Itulah mengapa negara berkembang begitu kerja keras untuk membuat event (kelas dunia) seperti olimpiade dan piala dunia. Karena ketika dunia datang ke negara Anda, itulah tanda bahwa Anda mencapai level yang menempatkan Anda ke kategori berbeda. Indonesia berhak mendapatkan peran itu," paparnya. 

Kim berharap dengan diadakannya Pertemuan IMF Bank Dunia ini bisa mendatangkan investor yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia. Sebab mereka akan melihat bagaimana Bali, dan Kim yakin para investor ingin kembali datang.

"Ketika mereka melihat apa yang terjadi di Indonesia dan melihat seberapa kuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) serta timnya melakukan hal yang tepat. Dan benar-benar ketika melihat Sri Mulyani dalam mengelola keuangan, saya pikir sikap para investor akan berubah (akan menanamkan modalnya) dan itu akan menjadi hal besar bagi Indonesia pada masa depan," ujarnya, optimistis.

Pada perbincangan antara Kim dengan host Metro TV Kania Sutisnawinata, Kim mengapresiasi sejumlah upaya pemerintah untuk mengentaskan beberapa permasalahan di Indonesia, antara lain komitmen pemerintah dalam mengelola dan mengurangi sampah plastik di laut, mengatasi stunting, hingga menggenjot pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.

Seperti diketahui, pada saat masa kampanye 2014, Presiden Jokowi menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai tujuh persen. Namun, pertumbuhan ekonomi kini tumbuh sekitar lima persen. 

Menurut Kim, target tujuh persen pada 2014 masih masuk akal, dan kondisi saat itu berbeda dengan sekarang. Sebab, angka lima persen ini adalah yang diinginkan oleh banyak negara berkembang lainnya. "Ini tingkat pertumbuhan yang sangat sehat. Sekarang, ada banyak negara berkembang yang sangat menantikan pertumbuhan ekonominya menyentuh angka lima," ucap Kim.

Kim pun sempat disinggung soal tingkat utang di Indonesia yang dinilai terlalu tinggi, yakni 29 persen. Menurut Kim, anggapan tersebut salah karena angka utang tersebut masih bisa dikelola.

"Secara empiris salah. Tingkat hutang Indonesia adalah 29 persen dan merupakan salah satu yang terendah di antara negara-negara berkembang di dunia. Ini tingkat utang yang bisa dikelola, karena Indonesia memiliki menteri keuangan, yang merupakan salah satu ekonom paling diharapkan di dunia," kata dia.


Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto:MI/ Arnold Dhae)

Masih pada program yang sama, Staf Khusus Wapres Bidang Ekonomi Wijayanto Samirin juga memaparkan soal keuntungan yang akan didapat Indonesia bila menjadi tuan rumah Pertemuan IMF Bank Dunia. Ini menjadi kesempatan yang luar biasa bagi Indonesia.

"Jadi begini, Indonesia terlibat dalam event sebesar ini dan ikut membuat agenda setting. Kita bisa memasukkan agenda penting bagi Indonesia, misal terkait World Bank inequality, pengurangan kemiskinan dan sebagainya. Ini adalah masalah khas yang kita hadapi," ujar Wijayanto. 

Disinggung soal biaya yang digelontorkan pemerintah yang mencapai Rp900 miliar, pria yang karib disapa Wija ini menyebut bahwa angka tersebut bukan biaya besar. Sebab, nantinya para delegasi akan membelanjakan uangnya, dan dana tersebut akan kembali lagi ke Indonesia.

"Biaya saya pikir hampir Rp1 triliun bukan biaya besar. Delegasi yang akan datang jumlahnya begitu banyak, mereka juga pasti akan spending, misalnya saja Rp1,5 triliun. Nah, ada sebagian dari uang itu yang masuk ke masyarakat, ada juga yang kembali ke pemerintah dalam bentuk pph atau ppn," ujar Wija.

Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menjelaskan soal manfaat langsung dari pertemuan kelas dunia tersebut. Dia berpendapat, musim liburan di Bali pada bulan Oktober sudah masuk low season, namun di sana masih bisa menerapkan tarif premium. 

"Kalau ada belasan ribu delegasi yang datang dari pra hingga selesai acara, tidak akan dapat hotel. Jadi nanti tidak cuma di Bali, bahkan disiapkan daerah penunjang wisata lainnya seperti Banyuwangi, Jawa Tengah, Labuan Bajo, bahkan sampai Raja Ampat. Ini direct impact," kata Misbakhun.

Diharapkan IMF World Bank Annual Meeting bisa menjadi momen bagi Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia tentang keberhasilan pencapaian program ekonomi. Misalnya, soal mengentaskan kemiskinan dan memperpendek kesenjangan melalui program dana desa. 

"Dana desa itu the one's of brilliant idea dari pemerintahan Pak Jokowi dalam merealisasikan UU Desa dan dilakukan upaya akselerasi membangun Indonesia dari pinggiran. Bahkan sekarang Bank Dunia berusaha mempelajari secara detail, dana desa akan menjadi program mereka yang diterapkan di negara yang ada masyarakat ruralnya," ucap Misbakhun.
(ROS)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

5 days Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA