'Tuhan Masih Sayang Saya'

Anwar Sadat Guna    •    Sabtu, 19 May 2018 23:29 WIB
terorismeTeror di Mapolda Riau
'Tuhan Masih Sayang Saya'
Anggota Polda Riau Aiptu Rofean - Medcom.id/Anwar Sadat Guna.

Pekanbaru: Penyerangan Mapolda Riau oleh kelompok terduga teroris, Rabu, 16 Mei 2018 lalu masih membekas dalam diri Aiptu Rofean. Ia merupakan salah satu petugas yang nyaris menjadi korban dari aksi keji tersebut.

Rofean menceritakan ihwal penyerangan tersebut. Pagi itu, ia bersama beberapa rekannya mendapat giliran bertugas di pintu masuk Mapolda Riau. Dia bersama anggota yang bertugas biasanya bergiliran membuka pintu gerbang.

Ia mengatakan saat itu suasana di Mapolda Riau berjalan normal seperti biasa. Warga atau pengendara yang masuk akan dimintai keterangan maksud dan tujuan kedatangannya. Namun situasi berubah mencekam ketika sebuah mobil Toyota Avanza putih tiba-tiba menerobos masuk Mapolda Riau.

Rofean mengaku terkejut melihat kejadian tersebut. Saat itu, dia tengah berdiri tepat di pintu masuk mapolda. "Mobil putih itu tiba-tiba menerobos masuk memanfaatkan celah pintu yang masih dalam kondisi terbuka," ujar Aiptu Rofean saat ditemui Medcom.id di Mapolda Riau, Sabtu, 19 Mei 2018.

Menurutnya, pintu masuk mapolda sempat bergoyang keras karena terkena body mobil yang dikendarai pelaku. "Mobil itu berbelok kencang dan langsung menerobos masuk ke polda. Jika posisi saya agak di tengah pintu masuk, entah apa yang terjadi. Mungkin saya tertabrak mobil pelaku," ujarnya.

Rofean tak henti mengucap syukur. Ia selamat dalam aksi teror yang dilakukan kelompok terduga teroris di Mapolda Riau. Rofean masih sulit membayangkan jika seandainya terkana hantaman mobil teroris yang melaju kencang tersebut.

"Tuhan masih sayang sama saya," ujarnya dengan nada bergetar.

Rofean pun langsung teringat oleh kata-kata anaknya pagi sebelum ia berangkat kerja. "Anak saya sempat mengingatkan agar saya hati-hati saat berangkat kerja," ujarnya.

Baca: Kronologi Penyerangan di Mapolda Riau

Sehari-hari, anggota polisi berpangkat Aiptu ini berdinas di Provost Polda Riau. Ia biasanya bertugas di Pos Penjagaan bersebelahan dengan Pos SPK (Sentra Pelayanan Kepolisian) Polda Riau. 

Rofean mengaku jauh sebelum penyerangan ke Polda Riau terjadi, penjagaan dan pengamanan di pintu masuk ke mapolda cukup ketat. Seluruh anggota, kata dia, juga sudah diinstruksikan oleh pimpinan selalu siap siaga. 

Warga, tamu atau pengendera yang datang ke polda diperiksa atau ditanya maksud kedatangnnya. "Setiap ada kendaraan yang masuk, pintu dibuka dan setelah itu ditutup lagi," katanya.

Tak heran ketika kelompok terduga teroris menerobos masuk ke Polda Riau, serangan mereka berhasil dipatahkan petugas. Empat terduga teroris yang menyerang menggunakan samurai berhasil ditembak mati di lokasi. 

"Suasana saat itu langsung mencekam. Empat orang pria turun dari mobil putih. Mereka langsung menyebar sembari mengacungkan samurai. Untungnya kami siap siaga sehingga serangan teror mereka bisa dilumpuhkan," tutur Rofean.

Keempat pelaku yang turun dari mobil menggunakan penutup wajah atau sebo, sarung tangan, dan pelapis lutut. Keempatnnya juga mengenakan sepatu yang sama merek catterpilar. 

Di tubuh salah seorang teroris terdapat lilitan kabel dan kotak. Namun setelah diperiksa, rangkaian kabel itu bukan bom dan kotak yang ditemukan juga dalam keadaan kosong.  

Dalam peristiwa ini, tiga anggota polisi menjadi korban. Mereka adalah Kompol Farid Abdullah, Ipda Auzar, dan Brigadir Jhon Hendrik. Ipda Auzar meninggal di RS Bhayangkara akibat ditabrak mobil yang ditumpangi pelaku. 

Selain itu, dua jurnalis juga menjadi korban. Mereka adalah Rian, kameramen TVOne dan Rahmadi, kameramen MNC.




(JMS)