Oknum Guru di Depok Gambaran Bobroknya Tata Kelola Guru

Intan Yunelia    •    Rabu, 13 Jun 2018 16:54 WIB
pencabulan
Oknum Guru di Depok Gambaran Bobroknya Tata Kelola Guru
Alami krisis guru, sekolah sering diliburkan, MI/Aries Munandar.

Jakarta: Oknum guru pelaku pelecehan seksual di Depok bukti bobroknya sistem perekrutan guru saat ini. Calon guru terkesan asal rekrut tanpa kualifikasi dan standarisasi yang jelas.

“Itu gambaran tata kelola sekolah dan kebijakan rekrutmen yang buruk,” kata Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Edy Suandi Hamid kepada medcom.id, Jakarta, Rabu 13 Juni 2018.

Namun, tidak serta merta hal itu sepenuhnya adalah kesalahan pihak sekolah. Sebab, sekolah pun sering terbentur persoalan kekurangan guru, sehingga terpaksa merekrut dari tenaga honorer.

Di sisi lain, kekurangan guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) pun terganjal keterbatasan dalam kebijakan nasional, seperti penerapan moratorium perekrutan guru PNS beberapa tahun lalu.  

“Ini aneh, karena setiap tahun ribuan bahkan bisa jadi puluhan ribu guru pensiun dan ini tidak ada gantinya,” terang mantan Rektor UII Yogyakarta ini.

Baca: Rekrutmen Oknum Guru Cabul di Depok Diduga Bermasalah

Merekrut guru honorer bukan tanpa kelamahan. Mereka dipaksa mengajar suatu bidang studi tertentu yang mungkin saja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka.

Seperti oknum guru di Depok yang berlatar belakang pendidikan humaniora namun dipaksa mengajar Bahasa Inggris. Kualifikasi dan standarisasi pun dikesampingkan.

“Ini bisa jadi pola rekrutmennya sangat  longgar dan tidak terstandar,” tutur mantan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) ini.

Dia berpesan agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) segera memetakan perekrutan kebutuhan guru. Terutama bagi daerah-daerah yang kekurangan guru.

“Seharusnya setiap tahun pengadaan guru rutin dilakukan dengan jumlah yang sesuai untuk mengganti guru pensiun atau yang berhenti karena sesuatu sebab,”pungkas Edy.


(CEU)