Kasus Pelecehan Seksual di Depok

Kasus Depok Harus Gunakan UU Perlindungan Anak

Intan Yunelia    •    Senin, 11 Jun 2018 16:52 WIB
pencabulan
Kasus Depok Harus Gunakan UU Perlindungan Anak
KPAI Bertemu Kapolresta Depok, Jawa Barat. Foto: Dokumentasi KPAI

Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ingin memastikan pihak kepolisian menggunakan Undang-Undang Perlindungan Anak (UU PA) terhadap penyelesaian hukum kasus pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru di Depok, Jawa Barat. KPAI juga akan meminta izin bertemu pelaku.

Komisioner KPAI bidang Pendidikan, Retno Listyarti menegaskan, pengawalan dilakukan agar kasus ini menggunakan UU Perlindungan Anak salah satunya untuk memastikan pelaku mendapat hukuman lebih berat atas kejahatannya.  "Kalau pakai UU PA, hukuman kekerasan seksual lebih berat daripada KUHP," tegas Retno dalam keterangan persnya yang diterima di Jakarta, Senin, 11 Juli 2018.

Seorang oknum guru sekolah dasar di Depok dilaporkan ke kepolisian oleh sejumlah wali murid karena diduga melakukan pelecehan seksual terhadap belasan murid laki-laki. Modusnya, murid laki-laki diminta untuk mengikuti perintah oknum guru.

Jika tidak mengikuti, murid diancam dengan diberikan nilai yang jelek. Kejadian tersebut terjadi di kelas, salah satunya siswa diminta membuka celananya.

KPAI juga akan mendalami modus yang dilakukan oknum guru pelaku pelecehan seksual terhadap sejumlah siswanya di salah satu sekolah di Depok, Jawa Barat tersebut. Selain untuk kepentingan pendalaman kasus, juga untuk mengetahui tren modus terkini yang dilakukan terduga pelaku pelecehan seksual.

Retno mengatakan, pendalaman modus penting diketahui publik agar meningkatkan kewaspadaan di sekolah.  Meski sejatinya sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi peserta didik.

“Info yang diperoleh KPAI menunjukan dugaan kuat, bahwa pelaku melakukan perbuatan tidak senonohnya saat kegiatan belajar mengajar berlangsung di dalam kelas, antara lain mengajak anak-anak nonton bareng film porno dari handphone-nya, dan mengajari anak-anak senam tangan (masturbasi),” urai Retno.

Seperti diberitakan sebelumnya, di setiap jam pelajaran Bahasa Inggris terduga pelaku memisahkan anak-anak perempuan dan anak laki-laki di dua kelas yang berbeda. KPAI, kata Retno, setelah liburan Idulfitri akan mendalami lebih jauh mengapa pihak sekolah tidak curiga dengan pemisahan kelas ini.

Seusai libur lebaran, KPAI akan mengajukan surat resmi kepada Walikota Depok untuk berkoordinasi dengan  Walikota depok dan sejumlah SKPD terkait untuk penanganan kasus ini  kedepannya, serta upaya pencegahan agar tidak terjadi lagi di sekolah-sekolah di wilayah Depok.
 


(CEU)

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

9 hours Ago

Fredrich menyesalkan sikap JPU KPK yang dinilai sengaja tidak mau menghadirkan sejumlah saksi k…

BERITA LAINNYA