Cap Telapak Tangan Cinta untuk Rakhine akan Diserahkan ke PBB

Ilham wibowo    •    Minggu, 24 Sep 2017 11:49 WIB
rohingyapengungsi rohingya
Cap Telapak Tangan Cinta untuk Rakhine akan Diserahkan ke PBB
Anggota Forum Lintas Komunitas Pendongeng Indonesia (FLKPI) Rian Hamzah - MTVN/Ilham Wibowo

Metrotvnews.com, Jakarta: Aksi solidaritas kemanusiaan anak-anak Indonesia dituangkan dalam cap telapak tangan di kain sepanjang 1.000 meter. Tanda cinta untuk masyarakat Rakhine itu akan diserahkan melalui Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). 

Anggota Forum Lintas Komunitas Pendongeng Indonesia (FLKPI) Rian Hamzah mengungkapkan, cap telapak tangan diambil setelah komunitas melakukan road show dongeng anak di berbagai kota. Rencananya, 50 perwakilan anak dari tiap kota akan memberikan ungkapan solidaritas kemanusiaan di kantor perwakilan PBB untuk Indonesia, Jalan MH. Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat. 

"Terlebih dahulu kita akan membentangkan sejuta cap telapak tangan anak Indonesia ini di kegiatan Car Free day, kemudian kita akan kirim ke PBB pada 25 September 2017," kata Rian kepada Metrotvnews.com, Minggu 24 September 2017. 

Rian mengatakan, cap telapak tangan berwarna warni tersebut menjadi wujud nyata kepedulian anak Indonesia. Konflik bersenjata di kawasan Rakhine State, Myanmar dinilai sangat memprihatinkan lantaran melibatkan anak-anak sebagai korban. 

"Setiap anak diajak menorehkan sejarah untuk menunjukan kepada dunia bahwa anak Indonesia menolak kekerasan yang terjadi di Rohingya," ujar dia. 

(Baca juga: Sejuta Cap Telapak Tangan Anak Indonesia Peduli Rohingya Dipamerkan di CFD)

Aksi solidaritas kemanusiaan tersebut digelar bersama oleh FLKPI, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dan Dompet Dhuafa mulai 3 September 2017. Inisiator aksi Iman Surahman mengatakan, anak-anak di seluruh Indonesia sengaja diberi ruang untuk menumbuhkan rasa empati melalui cara yang sederhana. 

Edukasi anak menjadi poin penting dalam aksi ini. Pasalnya, kata imam, perkembangan informasi dan teknologi yang mudah diakses anak-anak tak boleh menjadi rujukan tunggal. 

"Kita ingin anak-anak teredukasi menyikapi yang terjadi di sana (Rakhine) dengan benar. Karena tidak dapat dipungkiri mereka bisa melihat kejadian, kekerasan yang begitu mengerikan di media sosial yang mereka punya," ujar Iman.




(REN)