Mantan Ketua GP Farmasi: Regulasi Pemerintah soal Obat Sudah Ketat

Lukman Diah Sari    •    Sabtu, 16 Sep 2017 19:34 WIB
obat berbahaya
Mantan Ketua GP Farmasi: Regulasi Pemerintah soal Obat Sudah Ketat
Sebanyak 29.000 butir pil PCC disita dari distributor obat resmi farmasi di Makassar berinisial PBS SS, pada Jumat 15 September 2017. (Foto: Antara).

Metrotvnews.com, Jakarta: Ketua Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia 1996-2011 Anthony Charles Sunarjo, menilai wacana merubah regulasi sudah sangat ketat dan baik. Itu sebabnya tak ada yang perlu diubah dari regulasi yang telah ditetapkan. 
 
"Yang paling mendasar dibutuhkan bagaimana mengedukasi masyarakat. Jadi yang paling penting bagaimana masyarakat diedukasi," terang Anthony di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 16 September 2017.
 
 
Pihak farmasi menurut Anthony, menganggap obat adalah racun yang bila digunakan secara tepat dan dosis sesuai, maka bisa bermanfaat. Selama ini, obat yang sudah dipasarkan telah duji klinis.
 
"Tapi mudaratnya juga tetap ada. Narkotika pada dasarnya adalah obat untuk prnyakit kejiwaan. Ini ada unsur penyalahgunaan," pungkasnya. 
 
Penyalahgunaan tak hanya terjadi di Indonesia tapi di seluruh dunia. Jadi, kata dia, yang disalahgunakan bukan dari manfaat obat melainkan efek samping dari obat yang disalahgunakan. 
 
"Kalau dicari di jalur resmi tak akan dapat. Karena di jalur resmi sudah sangat ketat regulasi obat," ungkapnya. 
 
Dia menilai, semua peraturan perundang-undangan telah mengatur lebih dari cukup agar tidak terjadi penyalahgunaan. Sehingga perlu dilihat faktor lainnya. 
 
"Seperti sosial, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. BPOM tak hanya perkuat pengawasan administratif tapi juga pengawasan di lapangan," tandasnya. 
 
Kasus peredaran PCC muncul setelah adanya warga termasuk anak-anak yang menjadi korban usai mengonsumsi obat itu di Kendari, Sulawesi Tenggara. Hingga saat ini, kasus penyalahgunaan obat golongan G itu menewaskan dua orang. Sementara puluhan lainnya dirawat di lima rumah sakit berbeda yang ada di Kendari.
 
Sampai sekarang RSJ Kendari paling banyak menangani korban PCC, yakni mencapai 57 orang. Sebanyak 12 orang lainnya harus menjalani rawat intensif dan selebihnya menjalan rawat jalan.

 

 
(FJR)