Pemerintah Perbanyak Sekolah Anak TKI di Malaysia

Yogi Bayu Aji    •    Selasa, 09 Oct 2018 15:04 WIB
tkiindonesia-malaysia
Pemerintah Perbanyak Sekolah Anak TKI di Malaysia
Kepala BNP2TKI Nusron Wahid/MI/Mohamad Irfan

Bogor: Pemerintah Indonesia meminta izin Malaysia mendirikan community learning center (CLC) di Semenanjung Malaya. Fasilitas pendidikan itu bakal dijadikan lokasi belajar untuk anak tenaga kerja Indonesia (TKI).

"Kita meminta pemerintah Malaysia untuk mengeluarkan izin mendirikan CLC di kawasan Semenanjung, Kuala Lumpur, Johor, dan Pinang," kata Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa, 9 Oktober 2018.

Saat ini, CLC baru ada di Sarawak dan Sabah yang jumlahnya mencapai 59 unit. Fasilitas itu menampung 84 ribu murid. Namun, fasilitas itu dirasa kurang karena di Semenanjung Malaya juga belum ada CLC yang didirikan.

"Di kawasan Semenanjung, ada sekitar 40 ribu anak Indonesia terutama di sektor konstruksi karena hampir semua sektor konstruksi itu adalah ilegal," beber Nusron.

Baca: Jokowi Singgung Pendidikan Anak TKI ke Petinggi Malaysia

Anak-anak TKI yang dibawa orang tuanya dari Tanah Air atau yang lahir di Semenanjung pun terancam tak bersekolah. Mereka terkendala jarak bila memanfaatkan sekolah dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

"Ada sekitar 100-150 kilometer dari lokasi tempat mereka tinggal. Mereka biasanya tinggal di bedeng-bedeng, di atas bangunan yang belum selesai," jelas dia.

Nusron berharap Malaysia memahami kondisi tersebut dan mengizinkan pendirian CLC di Semenanjung Malaya. CLC nantinya diharap bisa dikelola KBRI maupun kelompok masyarakat di sana.

Baca: Presiden Terima Kunjungan Deputi PM Malaysia

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menjelaskan awalnya CLC hanya didirikan di perkebunan. Sedangkan TKI di Semenanjung kebanyakan bekerja di sektor industri dan properti.

Di Semenanjung, kata dia, sejatinya sudah ada sekolah Indonesia di Kuala Lumpur dan Penang. Namun, fasilitas itu dianggap kurang.

"Di Kuala Lumpur juga ada semacam kursus untuk anak-anak TKI. Semacam program kesetaraan, tapi itu juga jumlahnya ribuan. Kita menggunakan program kesetaraan, tapi karena itu di kota, jadi lebih mudah untuk dijangkau," jelas Muhadjir.


(OJE)

Hakim Tegur Irvanto

Hakim Tegur Irvanto

11 hours Ago

Hakim Yanto menyebut, Irvanto memang berhak membantah keterangan para saksi. Namun demikian, Ir…

BERITA LAINNYA