Bom Surabaya tak Bisa Jadi Tolok Ukur Kegagalan Deradikalisasi

Deny Irwanto    •    Rabu, 16 May 2018 06:32 WIB
terorismeTeror Bom di Surabaya
Bom Surabaya tak Bisa Jadi Tolok Ukur Kegagalan Deradikalisasi
Polisi bersiaga di sekitar lokasi ledakan di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel Madya, Surabaya, Jawa Timur. (ANT/M RISYAL HIDAYAT)

Jakarta: Rentetan bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu tidak bisa dijadikan tolok ukur sebagai kegagalan dari program deradikalisasi yang dijalankan Polri atau Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Direktur Yayasan Lingkar Perdamaian, Ali Fauzi Manzi mengatakan, pelaku bom bunuh diri di Surabaya bukanlah mantan narapidana teroris yang masuk binaan deradikalisasi. Sehingga, Dita Supriyanto dan keluarga belum pernah mendapat pembekalan program deradikalisasi.

"Kalau saya menganggap program deradikalisasi yang bagus berjalan mulus, karena saya lihat data para mantan napiter atau kombatan yang mau balik, mau sadar. Jadi, jangan karena satu aksi ini kemudian jadi barometer deradikalisasi gagal. Kita Indonesia ini luas, bukan satu provinsi tapi luas sekali," kata Ali kepada Medcom.id, Selasa, 15 Mei 2018.

Baca: Perlu Pendekatan Ekonomi dalam Deradikalisasi

Ali menjelaskan, dua tahun belakangan atau 2017 dan 2018, aksi teror yang melibatkan golongan ekstrim sudah berkurang.

Menurut mantan Kombatan Jamaah Islamiyah (JI) itu, jumlah pada dua tahun ini sudah sangat berkurang jika dibanding dengan beberapa tahun lalu.

"Yang kedua bahwa kalau yang jadi tolak ukur yang jadi aksi pada 2017 2018 ini aksi semakin mengecil dibanding aksi empat sampai lima tahun yang lalu. Jumlah atau intensitasnya enggak banyak. Kan 2018 ini kan pertama kali," jelas Ali.


(DMR)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

6 days Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA