DPR Minta Pelayanan Haji Ditingkatkan

Anggi Tondi Martaon    •    Rabu, 14 Mar 2018 18:02 WIB
berita dpr
DPR Minta Pelayanan Haji Ditingkatkan
DPR RI ingatkan agar Kementerian Agama tetap memberikan pelayanan maksimal kepada calon jemaah haji. Foto: Dok. DPR

Jakarta: Komisi VIII DPR RI mengingatkan agar Kementerian Agama agar tetap memberikan pelayanan maksimal kepada calon jemaah meski kenaikan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) tahun 2018 tidak terlalu besar, hanya 0,9 persen. Tahun ini, BPIH yang dibebankan kepada jemaah sebesar Rp35,23 juta.

Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang saat rapat kerja bersama Kementerian Agama. Dia mengingatkan, kenaikan yang tidak terlalu besar itu jangan sampai mengurangi pelayanan.

“Maka kata kuncinya, kami tetap mengejar pelayanan, sebagaimana disampaikan para Anggota Komisi VIII, peningkatan 0,9 persen jangan mengurangi pelayanan,” kata Marwan dalam keterangan tertulis, Rabu, 14 Maret 2018.

Hal senada juga disampaikan oleh Anggota Komisi VIII DPR Iqbal Romzi. Bahkan, politikus PKS itu menekankan pelayanan dan keamanan jemaah tetap harus menjadi prioritas utama. 

"Sehingga kenaikan itu menjadi penyemangat untuk sama-sama meningkatkan ibadah haji, dan pada gilirannya angka kepuasan jemaah meningkat,” kata Iqbal.

Sedangkan, Anggota Komisi VIII DPR Diah Pitaloka menyampaikan, kenaikan 0,9 persen merupakan hasil kerja keras yang dilakukan oleh Panja BPIH Komisi VIII DPR RI bersama pemerintah. Menurutnya, kenaikan yang tidak terlalu tinggi itu keberhasilan efisiensi di sisi transportasi.

Meski pun begitu, politikus PDI Perjuangan itu kembali mengingatkan agar kualitas pelayanan dan perlindungan tetap dioptimalkan. Terlebih pelayanan kesehatan untuk jemaah yang masuk dalam kategori beresiko tinggi.

Selain masalah pelayanan, permasalahan lain juga disinggung oleh Anggota Komisi VIII DPR Bisri Romli yaitu penertiban tempat penukaran uang (Rupiah ke Riyal) di lingkungan embarkasi. Sebab, selama ini banyak money changer itu  menjual mata uang Arab Saudi itu dengan harga yang mahal, sampai Rp4.100.

"Padahal kurs resmi hanya Rp 3.570. Hal ini dinilai sangat merugikan jemaah haji," kata Bisri.


(ROS)