Alasan Peristiwa Kegempaan tak Selalu Bisa Dirasakan

   •    Rabu, 10 Oct 2018 14:37 WIB
Gempa Donggala
Alasan Peristiwa Kegempaan tak Selalu Bisa Dirasakan
Anggota tim penyelamat dari Manggala Agni mencari korban gempa dan tsunami di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja)

Jakarta: Kepala bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Tiar Prasetya menyebut intensitas gempa cukup tinggi terjadi di Indonesia. Dalam satu tahun, peristiwa kegempaan bisa terjadi ribuan kali.

Ia mengungkap meski ada ribuan gempa mengguncang tanah Nusantara tidak semua bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Aktivitas gempa kadang hanya tercatat secara data dalam alat pendeteksi gempa.

"Karena stasiun pencatat gempanya semakin banyak dipasang tentu banyak gempa yang terdeteksi. Tapi memang ada juga yang dirasakan dan merusak," ujarnya dalam Program Khusus Metro TV, Rabu, 10 Oktober 2018.

Tiar mengatakan Indonesia berada di tiga lempeng besar dunia; lempeng benua australia, eurasia, dan pasifik. Di dalam lempeng-lempeng tersebut terdapat banyak patahan atau yang saat ini lebih dikenal dengan sesar.

Posisi Indonesia yang secara tektonik berdiri di atas lempengan membuat Tanah Air rawan diguncang gempa. Sejumlah wilayah di Indonesia menjadi daerah pertemuan lempeng tersebut.

"Ada berbagai lempeng yang merupakan tanah sangat keras bahkan (ketebalannya) hampir 100 kilometer. Kalau pecah, dia akan bergerak karena bumi itu panas sehingga tanah ini akan sedikit melunak seperti kerupuk yang mengambang di atas bubur," ungkapnya.

Selain lempeng, patahan-patahan juga banyak terdapat di Indonesia. Salah satunya pada peristiwa gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, akibat pergerakan sesar Palu Koro. 

Patahan lain, kata Tiar, ada juga yang bersifat lokal, artinya tidak akan berdampak buruk ketika terjadi gempa. Namun meski kecil, hitungannya bukan sentimeter melainkan kilometer yang tetap berpotensi merusak.

"Gempa itu terjadi kalau ada pertemuan dua lempeng. Keduanya bertumbuk dan melepaskan energi. Semakin besar energi yang dilepaskan semakin berbahaya dampaknya," kata dia.

Meski pada umumnya gempa dapat menimbulkan kerusakan ada kategori gempa yang meskipun magnitudonya besar tidak berdampak secara langsung terhadap masyarakat.

Jarak pusat gempa yang jauh di kedalaman dengan daratan yang dangkal kemungkinan tidak akan terasa kendati magnitudonya besar. "Yang berbahaya kalau magnitudonya besar, daratannya dangkal, di atas daratan itu ada penghuninya. Itu bisa jadi bencana besar".

Selain gempa lokal ada pula gempa yang terjadi di lautan dan daratan. Gempa lautan dengan magnitudo besar dan daratan yang dangkal sehingga dasarnya berubah akan menimbulkan tsunami.

"Indonesia dengan tingkat kegempaan tinggi sejak dulu, sekarang, dan yang akan datang selama bumi bergerak akan terjadi gempa. Yang bisa kita lakukan adalah strategi menghadapi gempa sehingga potensi korban bisa minimal," katanya.

Menurut Tiar selain teknologi pendeteksi gempa dan tsunami yang diperbanyak, masyarakat Indonesia juga perlu dibangunkan kultur siap menghadapi bencana. Sosialisasi sudah kerap dilakukan, tinggal tindak lanjut pengurangan risiko akibat kebencanaan.

"Pada prinsipnya untuk pengurangan risiko bencana belum masuk satu program. Ini yang kadang jadi hambatan. Di Pemerintah daerah misalnya karena keterbatasan anggaran, pemahaman risiko kebencanaan belum menjadi prioritas," pungkasnya.




(MEL)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

1 week Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA