Sekolah Indonesia Kota Kinabalu Didik 29 Ribu Anak TKI

Budi Arista Romadhoni    •    Jumat, 18 Jan 2019 18:41 WIB
pendidikan
Sekolah Indonesia Kota Kinabalu Didik 29 Ribu Anak TKI
Anak-anak Indonesia yang berada di Malaysia, belajar di Sekolah Indonesia Kota KInabalu (SIKK), Sabah, Malaysia, Medcom.id/Budi Arista Romadhoni.

Kota Kinabalu: Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) Malaysia menjadi pusat pendidikan bagi anak-anak Indonesia di perantauan. Tidak pandang bulu, anak TKI legal atau ilegal, semua ditampung di sekolah tersebut secara gratis.

Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Istiqlal mengatakan, terdapat 29.770 siswa yang terdaftar di SIKK, dan 50 persennya merupakan anak dari TKI  ilegal. 

"Sekitar 50 persen yang sekolah di sini adalah anak TKI ilegal. Syarat bisa belajar di sini asal anak indonesia mereka boleh belajar disini," kata Istiqlal saat ditemui Medcom.id, Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, Jumat, 18 Januari 2019. 

Ia mengungkapkan, banyak sekali anak TKI Indonesia yang tidak bisa belajar di sekolah milik pemerintah Malaysia.  "Kalau tidak ada sekolah ini, kami tidak tahu anak-anak TKI ini sekolah di mana, karena mereka juga tidak bisa belajar di sekolah milik pemerintah Malaysia," ungkapnya. 

Selain mendapatkan pendidikan yang layak, Istiqlal menyebut, pihaknya terus berusaha menyadarkan anak TKI ilegal untuk bisa pulang ke Indonesia. 

"Kami terus mencari anak-anak indonesia di sini. Kami juga usahakan para siswa di sini bisa pulang ke Indonesia, kita beri beasiswa melanjutkan sekolah di Indonesia. Jangan di sini terus, mau jadi apa nanti, boleh ke sini kalau sudah sukses, dan bawa orang tuanya pulang," bebernya. 

Baca: Kualitas Pendidikan Bergantung Pada Guru dan Kepsek

Namun, ia mengaku, usaha pemerintah membantu anak TKI ilegal tersebut tidak mudah. "Ada orang tuanya yang susah, dan tidak memperbolehkan anaknya sekolah di Indonesia," ucapnya. 

Lebih lanjut lagi, Sekolah Indonesia Kota Kinabalu yang ia pimpin tersebut, memiliki 295 CLC (community learning center), tersebar di Tawau, Kota Kinabalu, dan Kuching. Satuan pendidikan ini melayani lebih dari 29 ribu peserta didik yang merupakan anak Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi buruh kebun sawit dan Pembantu Rumah Tangga di negeri Jiran tersebut.

"Sekolah Indonesia Kinabalu ini adalah sekolah luar negeri paling besar di dunia, di antara 12 sekolah yang ada. Untuk kualitas sekolah kita, dari SD, SMP, hingga SMA akreditasi kita A semua," jelasnya. 

Di 2019 ini, pihaknya memiliki misi menjadi Pusat Keunggulan Pendidikan dan Kebudayaan di Asia Tenggara.  "Target kami 2022 semoga misi kami bisa tercapai. Tahun ini kami membuka SMK jurusan perhotelan dan tata boga," terangnya. 

Kemudian, untuk tenaga pengajar, pihaknya mengaku masih dirasa kurang. Guru yang mengajar sendiri tidak hanya guru ASN saja, namun terdapat guru profesional atau kontrak yang dikirim dari Indonesia. 

"Ada 333 guru, kalau dibilang mencukupi, ya belum. Di CLC kita hanya bisa memberikan satu guru, seharusnya minimal tiga lah. Seperti SMP, itu kan harusnya mata pelajaran, bukan guru kelas. Peran guru lokal sangat membantu di sini, Warga Malaysia ikut mengajar," tandasnya. 

Sementara itu, siswi SMP kelas VII asal NTT, Makdalena 13 tahun, mengaku sangat senang bisa merasakan pendidikan di Malaysia. Sebab, gaji orangtuanya yang bekerja sebagai pemotong rumput atau tukang kebun, tidaklah cukup untuk belajar di sekolah milik Pemerintah Malaysia. 

"Sekolah di sini sengat nyaman, dan gratis seperti di Indonesia, diajarin budaya, tarian Jawa juga. Semoga nanti bisa pulang dan dapat Beasiswa di Indonesia," ungkapnya.


(CEU)

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

2 weeks Ago

KPK memanggil Sekretaris Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Neg…

BERITA LAINNYA