Cerita Venna Melinda Adopsi Anak Korban Penelantaran Orang Tua

   •    Selasa, 09 Jan 2018 17:38 WIB
kekerasan anakkekerasan dalam rumah tangga
Cerita Venna Melinda Adopsi Anak Korban Penelantaran Orang Tua
Venna Melinda bersama anak asuhnya Vania Athabina. (Foto: Istimewa/Instagram @vaniaathabina24

Jakarta: Kasus penemuan bayi yang diduga ditelantarkan orang tuanya baik yang masih hidup maupun sudah dalam keadaan meninggal usai dilahirkan cukup banyak terjadi di Indonesia.

Beberapa kasus menyebut penelantaran bayi disebabkan oleh faktor ekonomi dan keengganan orang tua kandung untuk bertanggung jawab. Tak sedikit pula dari mereka yang mengakhiri hidup anaknya dengan cara dibunuh.

Anggota Komisi X DPR RI Venna Melinda menilai kasus semacam itu merupakan fenomena yang harus dicermati. Bagaimana mungkin ada orang tua yang tidak menggunakan akal sehatnya sebagai manusia dan mampu membunuh anaknya sendiri.

"Masalah ekonomi (boleh) jadi alasan untuk depresi dan sebagainya. Tapi itu bukan alasan untuk mengakhiri kehidupan orang lain apalagi anak sendiri," katanya, melalui sambungan telepon dalam Newsline, Selasa 9 Januari 2018.

Venna tahu betul bagaimana rasanya menjadi orang tua yang diberikan tanggung jawab untuk merawat anak. Bagaimanapun, selain menjadi orang tua kandung untuk dua anak laki-lakinya, Venna juga berperan sebagai ibu asuh dari seorang bayi perempuan bernama Vania Athabina yang sebelumnya ditelantarkan oleh orang tuanya.

Bagi dia, meskipun Vania tak terlahir dari rahimnya, ia tetap merasa bahwa anak adalah titipan Tuhan yang berhak mendapatkan pengasuhan.

"Ini kesempatan emas buat saya. Ketika ada seorang ibu bunuh diri karena faktor ekonomi, saya kebalikannya. Saya merasa (anak) ini adalah rezeki yang luar biasa dan tidak pernah takut kekurangan rezeki meskipun saya orang tua tunggal," katanya.

Venna meyakini bahwa setiap anak yang lahir membawa rezekinya masing-masing. Orang tua tidak berhak menentukan nasib anak harus hidup atau tidak ketika terlilit masalah ekonomi.

"Pola pikir ini harus dimiliki semua orang di dunia, anak itu akan membawa rezekinya sendiri. Yang penting kita rajin bekerja, punya niat baik, enggak mungkin Allah membiarkan kita menderita apalagi dengan niat baik untuk anak-anak kita," ungkapnya.

Sayangnya, prosedur pengangkatan anak di Indonesia menurut Venna masih cukup rumit. Hal inilah yang membuat anak-anak yang ditelantarkan orang tuanya banyak yang tak bernasib baik seperti Vania ketika ada orang yang ingin mengadopsi mereka.

Padahal, kata Venna, anak yang ditelantarkan orang tua sesaat setelahmereka dilahirkan perlu segera mendapat penanganan khusus. Sebab tak semua dari mereka dalam kondisi baik dan sehat.

Venna mengatakan Vania contohnya. Anak perempuan yang kini sudah melewati usia satu tahun itu pertama kali ditemukan dalam kondisi memprihatinkan. Selain prematur dan butuh penanganan segera, niat baik Venna untuk segera mengadopsi bayi ini terganjal aturan.

"Birokrasinya menurut saya belum terbuka. Bagaimana standar operasional prosedur menolong anak seperti Vania, juga menurut saya sosialisasinya belum kuat," tutur Venna.

Ia menambahkan dalam kasus seperti ini pemerintah perlu menyiapkan akses khusus terutama terkait sinergitas antar-kementerian untuk memangkas birokrasi agar nasib bayi-bayi terlantar bisa segera ditangani oleh orang yang tepat.

"Anak yang terlantar juga membutuhkan pertolongan medis segera. Inilah mengapa banyak anak-anak di luar sana yang tidak tertolong. Seharusnya pemerintah sadar terhadap SOP bagaimana menyelamatkan anak-anak yang terlantar," jelasnya.




(MEL)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

1 week Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA