Memahami Riset Perfilman melalui Buku Dokumenter Film & TV

Haifa Salsabila    •    Jumat, 22 Dec 2017 17:47 WIB
film
Memahami Riset Perfilman melalui Buku Dokumenter Film & TV
Suasana acara bedah buku di Universitas Budi Luhur, Jakarta Selatan, Jumat, 22 Desember 2017--Medcom.id/Haifa Salsabila.

Jakarta: Buku 'Dokumenter Film & TV: Redefining Documentary' diharapkan dapat menjadi salah satu pedoman yang digunakan sineas muda Indonesia dalam membuat film dokumenter. Khususnya dalam melakukan riset yang menjadi hal penting dalam sebuah film dokumenter. 

"Ide awal mengenai munculnya kegiatan ini cukup menarik. Tim ingin lebih membiasakan sineas muda agar terbiasa melakukan riset yang mudah menyenangkan dan sesuai," ujar Wakil Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur Wenny Maya Arlena pada acara bedah buku di Universitas Budi Luhur, Jakarta Selatan, Jumat, 22 Desember 2017. 

Ia mengungkapkan peluncuran buku ini merupakan langkah awal yang luar biasa untuk perkembangan film dokumenter di Indonesia. Ia berharap pula bahwa buku ini dapat menjadi sumbangsih khususnya bagi pecinta dokumenter. 

Salah satu penulis buku I Gede Putu Wiranegara mengungkapkan bahwa riset merupakan perkara paling penting dalam membuat film dokumenter. Berbeda dengan film fiksi, kisah yang diangkat dalam film dokumenter membutuhkan riset mendalam. 

"Film dokumenter itu tidak boleh salah. Ada kejujuran yang harus diperjuangkan yakni kejujuran isi dan kejujuran ekspresi. Makanya film dokumenter itu butuh riset. Jantungnya film dokumenter itu riset," tutur Wiranegara. 

Tanpa adanya riset, maka sineas tidak akan bisa mendapatkan cerita film dokumenter yang bermutu dan bermanfaat serta menarik untuk ditonton. Maka, Wiranegara sangat menegaskan pentingnya riset bagi sineas muda yang tertarik untuk membuat film dokumenter.

Senada diutarakan pula oleh perwakilan tim Eagle Institute Indonesia Eko Redjoso. Ia mengatakan bahwa pembuatan film dokumenter memang membutuhkan waktu lama dan pengelolaan riset adalah hal yang paling harus diberi perhatian besar. 

"Kita harus bisa membagi waktu dan fokus. Sehingga kita bisa berhasil buat produksinya," tutur Eko. 



Ia menuturkan pula bahwa bersama Eagle Institute Indonesia, pihaknya akan terus membagi wawasan kepada para pemula yang ingin membuat dokumenter. Hal ini dapat dilakukan dengan cara diskusi mendalam untuk menampung gagasan dari para sineas muda. 

Buku Dokumenter Film & TV: Redefining Documentary ditulis secara bersama-sama oleh para ahli di bidang perfileman umum maupun perfileman dokumentasi. Para ahli tersebut yakni Gerzon Ron Ayawaila, Naratama Rukmana, IGP Wiranegara, Djarot Suprajitno, Diki Umbara, Jastis Arimba, Mira Herlina, Haronas Kutanto, Safriady, Eric Gunawan, dan Syiaful Halim.


(YDH)

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

1 hour Ago

Fredrich menyesalkan sikap JPU KPK yang dinilai sengaja tidak mau menghadirkan sejumlah saksi k…

BERITA LAINNYA