Pengawasan Ketat di Kampus Berpotensi Timbulkan Teror Baru

Intan Yunelia    •    Kamis, 17 May 2018 14:07 WIB
Tangkal Radikalisme
Pengawasan Ketat di Kampus Berpotensi Timbulkan Teror Baru
Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY), Edy Suandi Hamid.


Jakarta: Tindakan preventif yang dilakukan pemerintah untuk mencegah masuk dan menyebarnya paham radikalisme di perguruan tinggi jangan sampai menimbulkan ketakutan baru yang akan membuat kondisi di dalam kampus justru tidak kondusif.

Pengamat Pendidikan dari Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY), Edy Suandi Hamid menyarankan agar penerapan pendampingan pada kegiatan kerohanian mahasiswa di kampus tidak dilakukan secara berlebihan. Pendampingan khusus yang berlebihan justru berpotensi menimbulkan rasa teror baru di lingkungan kampus.

Namun Edy menegaskan, tindakan preventif jelas diperlukan dalam menangkal paham radikalisme. "Nanti saking curiga dan pengawalan berlebih malah menjadi teror tersendiri yang menimbulkan ketegangan baru," ucap Edy kepada Medcom.id, Kamis, 17 Mei 2018.

Mantan ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) ini menyarankan agar pengawasan di kampus ini dilakukan secara wajar tanpa tindakan berlebihan. "Yang perlu dilakukan adalah mencari solusi dari hulu mengapa aksi seperti itu (terorisme) muncul. Hulunya adalah kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan. Nah ini yang harus dipecahkan," kata Rektor UWMY ini.

Menurut, Edy akar permasalahan radikalisme muncul karena ketimpangan dan ketidakadilan. Hal inilah yang seharusnya dipecahkan oleh pemerintah.

"Jadi mengatasinya tak cukup hanya hilir dan kulitnya saja, akar persoalannya yang harus dicerabut," tutur Mantan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir meminta dosen mendampingi kegiatan mahasiswa yang terkait organisasi kerohanian di kampus.  Langkah ini untuk menjaga lingkungan kampus, sekaligus mengantisipasi penyebaran paham radikal dan intoleransi.

"Organisasi kerohanian harus didampingi oleh para dosen," ucap Nasir.

 


(CEU)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

1 week Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA