Meriam Giant Bow Tetap Dipakai

Cahya Mulyana    •    Jumat, 19 May 2017 09:48 WIB
tnikecelakaan latihan perang
Meriam Giant Bow Tetap Dipakai
Meriam Giant Bow. Foto: Dok/tniad.mil.id/

Metrotvnews.com, Jakarta: TNI Angkatan Darat meyakinkan meriam 23mm/Giant Bow yang menyebabkan empat anggota TNI Angkatan Darat meninggal dunia dan delapan lainnya terluka dalam kondisi layak pakai. Bahkan, alat untuk melumpuhkan pesawat terbang itu masih digunakan dalam latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Natuna, Kepulauan Riau, yang akan dihadiri Presiden Joko Widodo dan seluruh gubernur.

"Terkait dengan kecelakaan latihan tersebut, tim dari TNI-AD masih sedang dan terus melakukan investigasi untuk mengetahui penyebabnya. Namun, secara teknis, meriam 23mm/Giant Bow yang digunakan dalam latihan tersebut masih dalam kondisi baik dan dipelihara dengan baik di satuan Yonarhanud-1/K," terang Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat Brigjen Alfret Denny Tuejeh, Kamis 18 Mei 2017.

Ia menjelaskan, TNI-AD akan tetap mengusut insiden yang menelan korban jiwa dengan semua kemungkinan seperti human error atau malaadministrasi. Tim investigasi dari Polisi Militer Angkatan Darat (POM-AD) sudah melakukan olah tempat kejadian perkara sejak pagi tadi di lokasi kejadian, Puncak Tinjau, Natuna.

Menurut Alfret, hasil investigasi yang tengah dilakukan akan langsung dilaporkan kepada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Sementara itu, anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin menegaskan, DPR akan meminta penjelasan TNI soal ini.

Hasanuddin melihat kejadian serupa tak sekali dua kali terjadi. Namun, kecelakaan senjata di Natuna menjadi menarik karena senjata Giant Bow pabrikan Tiongkok itu masih tergolong baru.

Baca: Latihan Reaksi Cepat di Natuna Tetap Dilanjutkan

Senjata pabrikan Tiongkok itu dibeli TNI pada 2008. Senjata itu kemudian ditempatkan di Batalyon Artileri Pertahanan Udara Kostrad. Hasanuddin penasaran dengan penyebab kecelakaan.

Investigasi pun sudah dilakukan untuk mencari tahu penyebab kecelakaan. Politikus PDIP itu tak setuju jika senjata yang digunakan prajurit tergolong usang. Senjata yang dibeli dari Tiongkok itu baru berumur sekitar tujuh tahun.

"Senjata yang digantikan saja kan tahun 1950, tahun 1950 sampai 2008 kan itu 58 tahun kan, enggak ada masalah, lalu digantikan senjata ini. Jadi kalau disebut usang memang belumlah, masih layak menurut hemat saya," jelas Hasanuddin.




(OGI)