Agresi Amarah Mendorong Seseorang Melakukan Mutilasi

   •    Senin, 18 Dec 2017 10:22 WIB
pembunuhankorban mutilasi
Agresi Amarah Mendorong Seseorang Melakukan Mutilasi
Pakar psikologi forensik Reza Indragiri. (Foto: Medcom.id/Nurazizah)

Jakarta: Ada banyak alasan mengapa seseorang sampai hati melakukan pembunuhan. Mulai dari spontanitas sebagai reaksi atas perilaku korban terhadap pelaku sampai dengan rasa sakit hati dan dendam.

Namun jika berbicara tentang mutilasi, Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri mengatakan ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Agresi amarah atau agresi instrumental.

"Agresi amarah berkaitan dengan tidak cukup bagi pelaku hanya mencabut nyawa korban. Amarah yang meluap-luap hanya bisa terpuaskan, terselesaikan, apabila diikuti tindakan susulan yaitu memotong tubuh korban dan membuangnya sedemikian rupa," ungkap Reza dalam Metro Pagi Primetime, Sabtu 16 Desember 2017.

Reza mengatakan umumnya agresi amarah dipicu oleh rasa dendam atau sakit hati seseorang yang sudah mengendap lama. Perilaku tak mengenakkan yang dilakukan korban terhadap pelaku dalam waktu yang lama bisa mendorong seseorang melakukan hal keji.

Lain halnya dengan agresi instrumental yang menjadi kemungkinan kedua seseorang melakukan mutilasi. Agresi ini tidak ada hubungannya dengan dendam, sakit hati, atau kebencian pelaku kepada korban.

Agresi instrumental merupakan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan manfaat tertentu. Misalnya menghilangkan barang bukti, menghindari proses hukum atau mendapatkan popularitas.

"Tetapi intinya tindakan mutilasi pasca pembunuhan merupakan bentuk kekerasan untuk menghilangkan barang bukti atau mempersulit proses hukum. Dua motif itu yang bermain-main pada diri pelaku," kata Reza.

Sering kali tindakan mutilasi dikaitkan dengan kondisi kejiwaan seseorang yang diduga bermasalah. Dalam hal ini Reza mengingatkan bahwa asumsi pelaku menderita gangguan mental harus dibuang jauh-jauh kendati dalam beberapa kasus pelaku memang mengalami gangguan jiwa.

Asumsi bahwa pelaku mengalami gangguan jiwa bisa dimanfaatkan oleh yang bersangkutan untuk lolos dari pidana. Padahal siapapun yang menjadi korbannya tentu akan menuntut pelaku agar mempertanggung jawabkan perbuatannya secara hukum pidana.

Luka fisik versus luka batin

Reza mengatakan bukan tidak mungkin pelaku pembunuhan dan mutilasi berada di posisi sebagai korban pada awalnya. Bukan korban yang terluka fisik namun secara batin yang tidak bisa dilihat orang lain.

Sayangnya sebagian besar orang menganggap luka secara fisik yang tampak kasat mata dianggap lebih serius ketimbang luka batin yang dialami seseorang. Padahal, tumpukan rasa sakit hati akan mendorong seseorang melakukan kekerasan lebih parah dari yang pernah didapatkannya.

"Makna penderitaan psikis manusia karena tidak ada bukti cenderung disepelekan. Namun kalau Kita sepakat dengan ungkapan lidah lebih tajam dari sembilu boleh jadi pelaku sesungguhnya adalah korban pada awalnya," ujarnya.

Reza melanjutkan, "apakah itu akan dipertimbangkan oleh hakim sebagai faktor peringanan hukuman atau menjatuhkan vonis tidak bersalah tinggal Kita lihat dalam proses persidangan," pungkasnya.




(MEL)

KPK Diam-diam Sudah Periksa Ajudan Novanto

KPK Diam-diam Sudah Periksa Ajudan Novanto

1 day Ago

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diam-diam sudah memeriksa ajudan Setya Novanto, AKP Reza Pah…

BERITA LAINNYA