Keluarga tak Terima atas Kematian Amirulloh

Al Abrar    •    Rabu, 11 Jan 2017 16:45 WIB
penganiayaan di stip
Keluarga tak Terima atas Kematian Amirulloh
STIP di Cilincing Jakarta Utara/MI/Immanuel

Metrotvnews.com, Jakarta: Keluarga tak bisa menerima kematian Amirulloh Aditya Putra, siswa yang tewas dianiaya lima senior di mess Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), Selasa 10 Januari malam. Kembaran Amirulloh, Amarulloh Adityas Putra menegaskan, keluarga bakal menuntut secara hukum atas keluarga putra kedua keluarga Supiadi ini.

"Keluarga tidak terima dan kecewa atas perlakuan senior STIP," di rumah duka, Jalan Warakas 3, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (11/1/2017).

Amar yang kini bersekolah di Akademi Maritim Indonesia (AMI) juga menuntut kelima pelaku dihukum berat. Menurut dia, perlakuan kepada adiknya tersebut tidak termaafkan.

"Ayah saya sangat tidak terima karena dia bangga sekali (Amir) bisa sekolah di negeri," ucap dia.

Pria kelahiran 25 Mei 1998 ini juga berharap kekerasan terhadap junior di sekolah pelayaran negeri tidak terulang. Sebab, di STIP, diketahui sudah tiga kali  persitiwa serupa terjadi, yakni pada 2012 dan 2014.

"Pihak keluarga ingin, tidak ada kekerasan lagi dan ada hukuman setimpal," ucap dia.

Saat ini, lima pengeroyok sudah ditetapkan jadi tersangka. Empat tersangka, SM, I, AR, dan WH, diduga terkait kematian Amirulloh Adityas Putra. Sedangkan seorang tersangka berinisial J diduga menganiaya empat siswa taruna tingkat satu lainnya. Saat kejadian, Amirulloh menghadap para seniornya bersama beberapa siswa tingkat satu.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memutuskan mencopot  Ketua STIP. Berdasarkan website resmi, Kepala STIP saat ini dijabat Capt Weku Frederik Karuntu.

"Hari ini kami sudah membebastugaskan kepala sekolah itu, karena pada dasarnya standar kerja dari sekolah kita yang pelayaran, udara, darat, kejadian seperti ini sudah beberapa kali terjadi," kata Budi di Kompleks Istana, Jakarta Pusat, Rabu (11/1/2017).

Budi juga memasstikan penganiaya mendapat sanksi berat, dikeluarkan dari sekolah.


(OJE)