Paham Radikalisme tak Menarik Bagi Mahasiswa IAIN

Antara    •    Jumat, 08 Jun 2018 12:47 WIB
Radikalisme di Kampus
Paham Radikalisme tak Menarik Bagi Mahasiswa IAIN
Warga serukan penolakan terhadap radikalisme. Foto: Antara/ Andreas Fitri Atmoko.

Palu: Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, Sagaf S. Pettalongi  menyatakan paham radikalisme tidak menarik untuk tumbuh dan berkembang di perguruan tinggi yang dipimpinnya.

"Selain itu, kami juga memiliki sistem pembinaan kemahasiswaan yang sudah diatur dalam kode etik mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan, dan setiap organisasi kemahasiswaan sudah ada beberapa orang dosen yang membina pada masing-masing unit kegiatan mahasiswa, sehingga pencegahan dan deteksi dini dapat dilakukan," kata Sagaf di Palu, saat merespon rilis BNPT tentang tujuh perguruan tinggi yang terpapar paham radikalisme.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa, dosen, dan tenaga administrasi, serta secara umum seluruh sivitas akademika di IAIN Palu tidak terindikasi dan terkontaminasi paham radikalisme. IAIN Palu justru  menawarkan solusi sekaligus langkah melawan tumbuh dan berkembangnya paham radikalisme di perguruan tinggi.

Pertama, menurut dia pencegahan dilakukan dengan  mengintensifkan komunikasi dan pembinaan kepada semua sivitas akademika tentang pemahaman keagamaan yang menyimpang dengan konsep Islam yang rahmatan lil alamin.

Kedua, Guru Besar Manajemen Pendidikan itu mengemukakan perlunya penguatan dan
mengintensifkan  peran organisasi intra-kampus seiring pembinaan kemahasiswaan yang mengedepankan metode dan sistem preventif dan deteksi dini.

"Perlu pemaksimalan dan penguatan peran organisasi intra kampus dalam pembinaan kemahasiswaan dengan sistem preventif dan deteksi dini yang terformat dalam bentuk kode etik kemahasiswaan dan berorganisasi," jelasnya.

Wakil Ketua Umum MUI (Majelis Ulama Indonesia) Sulawesi Tengah ini menyebutkan perlu ada pembinaan khsusus kepada oknum yang positif terindikasi dan terkontaminasi paham radikal. "Terhadap oknum itu perlu ada pembinaan khusus dan pendampingan secara kelembagaan, guna memberikan pemahaman menyeluruh akan pentingnya menghormati perbedaan dan keragaman tanpa harus memaksakan kehendak apalagi menyakiti orang lain yang tidak sepaham," lanjutnya.

Dia mengemukakan setiap perguruan tinggi perlu berkoordinasi dengan pihak BNPT dalam hal pencegahan dan pembinaan paham radikal, yang memungkinkan muncul dan berkembang di perguruan tinggi.


(CEU)