Ketua DPR Kecam Amerika

Anggi Tondi Martaon    •    Kamis, 17 May 2018 10:52 WIB
berita dpr
Ketua DPR Kecam Amerika
Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Foto:MI/Rommy Pujianto)

Jakarta: Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengutuk dan mengecam sikap Amerika Serikat yang tetap meresmikan kedutaan besar di Yerusalem, meski di tengah protes masyarakat internasional. Negeri Paman Sam itu dinilai tidak menghormati keputusan Sidang Darurat Majelis Umum PBB yang menolak Yerusalem sebagai ibu kota Israel. 

"Dalam Sidang Darurat Majelis Umum PBB yang diikuti 128 negara, secara tegas menolak Yerusalem ditetapkan sebagai ibu kota Israel. Langkah Trump sama saja dengan melecehkan PBB," kata pria yang akrab disapa Bamsoet, melalui keterangan tertulis, Kamis, 17 Mei 2018.

Bamsoet mengungkapkan, langkah Presiden AS Donald Trump dianggap dapat merusak perdamaian untuk menyelesaikan pertikaian Palestina dan Israel. Penempatan Kedubes AS dikhawatirkan menimbulkan konflik baru yang lebih besar.

"Ini bisa memicu kemarahan umat Islam kepada Amerika Serikat," ucap Bamsoet.

Dia pun meminta PBB tidak lepas tangan dan mengambil langkah tegas. Jika tidak, dikhawatirkan sentimen anti Amerika akan meluas.

"Dan itu tentu saja dapat memicu benih-benih terorisme yang mengancam kedamaian dunia,” ujar Bamsoet.

Mantan Ketua Komisi III DPR itu juga mengimbau Kemenlu RI segera memanggil Duta Besar AS untuk menyampaikan nota protes. Pemerintah juga diminta mendesak PBB melakukan penyelidikan atas tewasnya puluhan demonstran Palestina belakangan ini. 

“Kita adalah negara muslim terbesar. Kita harus ambil peran lebih besar untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Apalagi, konstitusi negara kita secara tegas menentang setiap bentuk penjajahan di muka bumi," kata Bamsoet.

Selain itu, DPR RI melalui BKSAP selalu konsisten menyuarakan kepentingan Palestina di berbagai forum parlemen dunia. Seperti IPU (Forum Parlemen Dunia), PUIC (Forum Parlemen Negara-negara OKI), serta AIPA (Forum Parlemen ASEAN).

"Kita konsisten mendukung perjuangan Palestina dan mengutuk tindakan brutal Israel. Bahkan, di PUIC kita telah menyampaikan kritik bahwa perpecahan negara-negara Arab sebagai faktor memburuknya situasi di Palestina,” ujar Bamsoet.


(ROS)