Kebijakan 5 Hari Sekolah Sulit Diterapkan di Daerah Tertinggal

Intan fauzi    •    Sabtu, 17 Jun 2017 14:08 WIB
pendidikan
Kebijakan 5 Hari Sekolah Sulit Diterapkan di Daerah Tertinggal
Tatang Mutaqqin. Foto: Metrotvnews.com/Intan Fauzi

Metrotvnews.com, Jakarta: Penekun kajian pendidikan Tatang Mutaqqin menilai kebijakan lima hari sekolah bakal sulit diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia. Meski, Pasal 8 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah membolehkan kebijakan itu diterapkan bertahap sesuai kesiapan sekolah.

"Persoalannya, sampai kapan akan menunggu seluruh sekolah di Indonesia menerapkan kebijakan itu. Kemudian apakah memungkinkan semua sekolah menerapkan kebijakan," kata Tatang dalam sebuah diskusi di Jakarta Pusat, Sabtu 17 Juni 2017.

Tatang menjelaskan, penerapan lima hari sekolah bakal bergantung pada kondisi masyarakat itu sendiri.
"Tak bisa semuanya (menerapkan)."

Semisal, banyak daerah pertanian yang anak-anaknya membantu orang tua bekerja. Dengan sistem sekolah penuh, kata dia, mereka tak akan bisa lagi bekerja membantu orang tua.

"Kesulitan menerapkan kebijakan lima hari sekolah akan terjadi di daerah-daerah kecil dan tertinggal," kata dia.

Baca: Kemenag Cari Solusi Hadapi Sekolah 5 Hari

Anggota The James Coleman Associations itu belum bisa mengungkapkan berapa jumlah anak yang bekerja di usia sekolah. Namun, melihat data 2011, anak usia sekolah yang bekerja jumlahnya di atas 20%.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Pasal 2 peraturan itu menyatakan hari sekolah dilaksanakan 8 jam dalam sehari atau 40 jam selama 5 hari.
 


(UWA)