Kisah Dua Relawan Pendidikan Pascabencana

Surya Perkasa    •    Jumat, 07 Dec 2018 20:56 WIB
Gempa Donggala
Kisah Dua Relawan Pendidikan Pascabencana
Chief CSR Officer Media Group Rahni Lowhur Schad (kemeja putih), Ketua Yayasan Media Group Ali Sadikin (tengah barisan belakang) dan Direktur Pemberitaan Metro TV Don Bosco Selamun berfoto bersama relawan pendidikan Dompet Kemanusiaan Media Group, Medcom.

Palu:  Hati Asmawati, 39 tahun, terenyuh, kala melihat anak-anak korban gempa di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) berkeliaran di pengungsian.  Jiwanya pun terpanggil, saat Dompet Kemanusiaan Media Group membuka lowongan relawan pendidik bagi anak-anak korban bencana di Palu, Sigi dan Donggala.

Relawan yang mendaftar berasal dari beragam latar belakang, mulai dari mahasiswa, guru kontrak, dosen, hingga ibu rumah tangga.  Asmawati, dan Sumarmi, 50, adalah dua di antara sejumlah relawan yang terpanggil hatinya untuk membantu anak-anak korban gempa dan tsunami di Sulteng.

Asmawati padahal juga salah satu korban gempa yang tinggal di Petobo, Palu, ia juga bahkan harus ikut mengungsi.  "Saya sedih. Melihat anak-anak berkeliaran di pengungsian. Tidak bisa sekolah, tidak ada yang mengajar," kata Asmawati saat dijumpai di posko pendidikan Media Group, Palu, Sulteng, Jumat, 7 Desember 2018.

Pendidikan anak-anak korban bencana di Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah, menjadi salah satu fokus program Dompet Kemanusiaan Media Group.  Yayasan Media Group mengirimkan 32 relawan ke 12 titik untuk membantu penyembuhan trauma dan bantuan sekolah darurat untuk anak beragam jenjang pendidikan.

Asmawati mengaku hatinya tersentuh untuk menjadi relawan, karena mengingat anaknya yang baru menginjak usia delapan tahun. Insting keibuan dan rasa kemanusian terpanggil, saat Dompet Kemanusiaan Media Group membuka lowongan relawan tersebut.

"Saya yang tidak punya apa-apa, ini ingin berbagi walaupun sederhana," ucapnya.

Baca: Yayasan Media Group Buka Dompet Kemanusiaan Palu dan Donggala

Hal senada juga disampaikan Sumarmi. Dia awalnya hanya staf logistik di salah satu organisasi yang datang memberi bantuan ke Palu. Perempuan asal Jombang, Jawa Timur, ini tak kuasa menahan tangis saat membayangkan penderitaan korban.

"Saya ingin memberi lebih. Akhirnya saya ikut jadi relawan pendidikan," kata dia

Chief CSR Officer Media Group, Rahni Lowhur Schad mengakui pendidikan menjadi salah satu fokus Yayasan Media Group di kawasan bencana.  "Sekarang sudah dua bulan berlangsung sekolah darurat yang tersebar di 12 titik di Palu, Sigi Donggala," kata Rahni.

Sekolah darurat ini akan berlangsung selama enam bulan. Daerah yang menjadi titik bantuan sekolah darurat dari Media Group tak hanya berada di pusat kota atau pengungsian. Beberapa relawan mengajar hingga ke desa-desa, salah satunya desa di Balaesang, Donggala, yang berjarak empat jam perjalanan dari pusat kota.

Dia menyebut, Yayasan Sukma juga akan dilibatkan untuk membangun sekolah permanen seperti di Aceh. "Kita juga melibatkan beberapa pihak seperti Dee Lestari dan Didit Maulana untuk membangun sekolah darurat," kata dia.

Lihat Video:

 


(CEU)