Belajar Kereta Api Cepat, Indonesia Kirim Insinyur Ke Cina

Intan Yunelia    •    Jumat, 08 Jun 2018 19:34 WIB
Pendidikan Tinggi
Belajar Kereta Api Cepat, Indonesia Kirim Insinyur Ke Cina
Peresmian program studi teknik perkeretaapian di Politeknik Negeri Madiun (PNM), Jawa Timur. Foto: Humas Kemenristekdikti/Fatimah Larasati Harahap

Jakarta: Indonesia akan mengirim 15 insinyur untuk belajar pengembangan kereta api cepat di Cina. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang perkeretaapian terus ditingkatkan mengingat jumlah SDM yang ada masih jauh tertinggal dengan pesatnya industri kereta api di Indonesia.

Menteri Riset, teknologi dan pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad nasir mengatakan kebutuhan SDM di bidang perkeretapian sangat besar setiap tahunnya. Sementara itu, jumlah SDM perkeretaapian yang berkualitas di Indonesia masih sangat rendah.

"Yang tidak kalah penting juga masalah peningkatan kapasitas SDM. Nanti kami akan mengirimkan engineer PT. INKA (PT. Industri Kereta Api) ke Cina. Ada 15 orang yang akan dikirim untuk belajar pengembangan kereta api cepat," kata Nasir.

Dalam siaran pers yang diterima Medcom.id, Menristekdikti juga meresmikan program studi teknik perkeretaapian di Politeknik Negeri Madiun (PNM), Jawa Timur. Program studi ini juga dibuka untuk memenuhi kebutuhan SDM di bidang perkeretapian.

"Kami memberikan mandat kepada PNM untuk membuka program studi perkeretaapian mengingat perkembangan transportasi kereta api kian meningkat," kata Nasir.

Lulusan program studi ini diharapakan bisa bekerja di proyek-proyek pembangunan kereta api di Tanah Air.  Seperti pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung, MRT (Mass Rapid Transit), dan LRT (Light Rail Transit) di Palembang yang menjadi program prioritas pemerintah.

"Problemnya perkeretaapian Indonesia belum didukung SDM yang berkualitas. Baik itu pengoperasiannya yang ada di API (Akademi Perkeretaapian Indonesia) maupun industri perkeretaapian yang ada di PT. INKA (PT. Industri Kereta Api)," jelas Nasir.

Untuk model pembelajarannya, para mahasiswa akan lebih banyak praktik daripada teori. Mahasiswa nantinya akan dihadapkan dengan laboratotirum.  Untuk tenaga pendidiknya melibatkan praktisi dari PT. INKA Madiun yang memiliki 142 ahli di bidang perkeretaapian.

"Untuk dosen dari PT. INKA nanti akan kita berikan NIDK (Nomor Induk Dosen Khusus). Walaupun syarat dosen harus S2, namun jika hanya S1 maka akan kita RPL-kan (Rekognisi Pembelajaran Lampau)," tutur Nasir.

Melalui RPL, Nasir menjelaskan para praktisi PT. INKA  dilihat latar belakang akademiknya dan kompetensinya di bidang perkeretaapian.

"Nanti akan disesuaikan dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)," pungkasnya.


 


(CEU)

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

13 hours Ago

Fredrich menyesalkan sikap JPU KPK yang dinilai sengaja tidak mau menghadirkan sejumlah saksi k…

BERITA LAINNYA