Newsline

Sulit Menemukan Buku yang Sesuai Membuat Minat Baca Masyarakat Rendah

   •    Rabu, 17 May 2017 18:49 WIB
bukuminat baca
Sulit Menemukan Buku yang Sesuai Membuat Minat Baca Masyarakat Rendah
Ilustrasi-sejumlah siswa SD membaca di perpustakaan/ANT/Irsan Mulyadi

Metrotvnews.com, Jakarta: Penelitian 'The World’s Most Literate Nation' yang dilakukan oleh The Central Connecticut State University pada 2016 menempatkan Indonesia di urutan ke 60 dari 61 negara sebagai negara dengan minat baca yang rendah.

Penulis Fenty Effendi mengungkap, ada sejumlah fakta yang menjadi penyebab mengapa minat baca di Indonesia begitu rendah. Salah satunya harga buku yang dinilai relatif mahal dan sulit dijangkau oleh masyarakat.

"Selain itu, calon pembaca sering kali tidak menemukan buku yang sesuai dengan yang dia mau atau buku itu tidak cocok di satu daerah atau satu kawasan tertentu," ujar Fenty, dalam Newsline, Rabu 17 Mei 2017.

Fenty mengaku pernah membaca buku hasil karya pegiat literasi di Kathmandu, Nepal, yang menyatakan heran mengapa kebanyakan anak-anak tidak menyukai membaca buku. Penyebabnya, tidak ada buku yang sesuai dengan minat baca dan kebutuhan mereka.

"Kemudian dia membuat sayembara menulis dan melibatkan anak-anak, akhirnya diketahui bahwa mereka butuh buku seperti ini. Saya kira ini juga salah satu penyebab di Indonesia minat bacanya rendah," kata Fenty.

Tak hanya itu, jumlah penulis yang menghasilkan buku di Indonesia juga kalah jumlah jika dibandingkan dengan Tiongkok. Pada 2016 produksi buku di Indonesia per tahunnya hanya sekitar 64 ribu sedangkan Tiongkok mencapai 440 ribu.

Dengan fakta itu, Fenty menilai Indonesia butuh lebih banyak penulis yang bisa menuangkan gagasan, isi pikiran bahkan pengalamannya untuk dituangkan ke dalam buku dan memberi sedikit informasi kepada masyarakat bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa dijangkau hanya dengan pengetahuan dari lingkungan sekitar saja.

"Tantangannya butuh lebih banyak lagi tokoh-tokoh yang kaya dari berbagai masa, juga mau terbuka supaya pembaca bisa menyerap informasi dari cerita karena saya kan kebetulan nulisnya (kebanyakan) biografi," katanya.

Untuk menumbuhkan minat baca, Fenty mengaku memiliki pemikiran sederhana bahwa membaca buku bisa dilakukan dimana saja. Apalagi, masyarakat Indonesia terkenal dengan tradisi merantau dan mudik di hari-hari tertentu.

Dia mencontohkan, masyarakat bisa menggerakkan kembali literasi yang dikombinasikan dengan tradisi mudik. Ketika mudik menggunakan kendaraan apapun, Fenti mengajak masyarakat menyelipkan satu atau dua buku yang bisa dibawa ke kampung halaman dan kembali menumbuhkan minat baca dari kerabat paling dekat.

"Membaca buku membuat kita jalan-jalan, membuat apa yang kita lupa padahal baru beberapa tahun lalu bisa mengingatnya kembali dan ke depan bisa belajar sejarah juga dari buku," pungkasnya.




(MEL)