Kemenkop UKM Fokus Pelatihan Keterampilan di Daerah Bencana

Rosa Anggreati    •    Jumat, 05 Oct 2018 19:28 WIB
Berita Kemenkop UKM
Kemenkop UKM Fokus Pelatihan Keterampilan di Daerah Bencana
Plt Deputi Bidang Pengembangan SDM Kemenkop UKM Rully Nuryanto (Foto:Dok.Kemenkop UKM)

Jakarta: Sepanjang 2018, Kemenkop UKM menggelar pelatihan vocational (keterampilan) di delapan wilayah yang terkena bencana. Diharapkan, melalui pelatihan tersebut dapat membantu masyarakat dalam pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya.

Kedelapan wilayah yang dimaksud ialah Kabupaten Pacitan (banjir), Kabupaten Tasikmalaya (gempa), Kabupaten Garut (banjir), Kabupaten Lombok Timur (banjir bandang), Kabupaten Bireuen (gempa), Kabupaten Karangasem, Bali (gunung meletus), Kabupaten Bangli (gunung meletus), dan Kabupaten Gunung Kidul (banjir). Total peserta pelatihan 240 orang.

"Sesuai PP 21 Tahun 2008 tentang Penanggulangan Bencana, peran Kemenkop UKM lebih kepada upaya pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya, melalui pembinaan kemampuan keterampilan masyarakat yang terkena bencana," kata Plt Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) Rully Nuryanto, dalam siaran persnya di Jakarta, Jumat, 5 Oktober 2018.

Materi pelatihan vocational disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat dan potensi di wilayah masing-masing. Misalnya, di Pacitan pelatihan vocational bidang olahan pisang dan emping jagung. Tasikmalaya, bidang rias dan tata boga. Garut, bidang tata rias dan pengolahan makanan. Lombok Timur, bidang pembuatan terasi dan kue kering. Bireuen, bidang perbengkelan sepeda motor dan tata boga. Karangasem, bidang penyulingan minyak wangi dan dupa serta packaging. Bangli, bidang kerajinan anyaman bambu. Gunung Kidul, bidang kue kering dan kue basah.

Selain itu, dalam rangka percepatan pemulihan pasca bencana gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB), Kemenkop UKM menggelar pelatihan vocational yang diikuti 60 peserta.

"Kegiatan pelatihan terpadu seperti pelatihan kewirausahaan, perkoperasian, dan vocational, yang bekerja sama dengan Dekranas dan PKK yang sedianya dilaksanakan pada 8 Oktober 2018 di Kota Palu, Sulawesi Tengah, diundur pelaksanaannya mengingat kondisi Kota Palu pasca bencana dan tsunami belum kondusif. Bantuan lebih diperlukan dalam hal logistik, medis, dan perbaikan infrastruktur yang rusak," ujar Rully.

Tahun depan, Kemenkop UKM tetap fokus dan menetapkan program pelatihan vocational di daerah pasca bencana, di antaranya Kabupaten Karo, Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Tengah, Kota Mataram, Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala, dengan total peserta 330 orang.

Di samping program pelatihan di wilayah terdampak bencana, pada 2018 Kemenkop UKM menggelar program pelatihan vocational di daerah perbatasan dan daerah tertinggal.

"Di daerah perbatasan, kita bekerja sama dengan Badan Nasional Pengelola Daerah Perbatasan, Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, serta dinas koperasi UKM yang ada di wilayah perbatasan," kata Rully.

Mengenai pelatihan vocational di daerah tertinggal, Rully menyebutkan berdasarkan Perpres 131 Tahun 2015 tentang penetapan daerah tertinggal 2015-2019, sebanyak 122 kabupaten di 23 provinsi.

"Kita menggelar program pelatihan di 13 kabupaten, seperti Bondowoso, Sorong, Raja Ampat, Gorontalo Utara, Boalemo, Sigi, Bima, Banggai Kepulauan, Nias Utara, Lombok Barat, Situbondo, Seluma, dan Halmahera Selatan. Materi pelatihan selain menjadi kebutuhan dan potensi masyarakat setempat, juga diharapkan bermanfaat bagi masyarakat di sana untuk bisa memulai sebuah usaha," katanya.

Yang tak kalah menarik adalah khusus di provinsi Papua dan Papua Barat. Kemenkop UKM melakukan pelatihan vocational, kewirausahaan, hingga pelatihan perkoperasian. "Kita memiliki tugas dalam peningkatan keterampilan berwirausaha untuk orang asli Papua dan kewirausahaan mama-mama Papua," ucap Rully.


(ROS)