Tembus Beasiswa ke AS Harus Kantongi Score TOEFL 600

Dian Ihsan Siregar    •    Sabtu, 11 Aug 2018 15:49 WIB
WISH Forum 2018
Tembus Beasiswa ke AS Harus Kantongi <i>Score</i> TOEFL 600
World Indonesia Scholarship (WISH) Forum 2018. Medcom.id/Dian Ihsan Siregar.

Jakarta: Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) mengajak pelajar, mahasiswa dan dosen untuk meningkatkan nilai TOEFL (Test of English as a Foreign Language)-nya untuk dapat menaklukkan kesempatan beasiswa dari lembaga dan perguruan tinggi pemberi beasiswa di luar negeri, terutama Amerika Serikat.

Ketua Umum ADI, Dino Patti Djalal mengatakan banyak masyarakat, baik pelajar, mahasiswa maupun dosen Indonesia yang tidak lolos dalam seleksi mendapatkan beasiswa pendidikan ke perguruan tinggi di luar negeri, seperti Amerika Serikat (AS).  Salah satunya karena terganjal score TOEFL yang tidak memenuhi syarat.

"Bayangkan saja, untuk mendapatkan beasiswa ke AS, setidaknya masyarakat Indonesia harus memiliki score TOEFL 600. Pada saat ini, kebanyakan generasi muda Indonesia hanya memiliki 500-550 TOEFL," sebut Dino, saat memberikan sambutan di World Indonesia Scholarship (WISH) Forum, di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Sabtu, 11 Agustus 2018.

Dengan minimnya score TOEFL yang dimiliki, kata Dino, masyarakat Indonesia akhirnya banyak mendapat beasiswa pendidikan di negara lain , seperti Australia dan sekitarnya.  Di mana di negara-negara tersebut tidak mensyaratkan TOEFL tinggi seperti Amerika.

"Kita tidak perlu minta korting atau diskon. Kita yang harus tingkatkan (TOEFL). Dari sekarang kita persiapkan, untuk bisa bersaing ke level internasional," ucap dia.

Baca: Medcom.id Undang Dua Menteri Pendidikan di Seremoni Beasiswa OSC

‎Meski masih sedikit yang mendapatkan beasiswa ke Amerika, sambung dia, tapi banyak juga orang Indonesia yang sukses menimba ilmu pendidikan di luar negeri, salah satunya George yang merupakan anak muda dari Papua, kini sedang kuliah di Inggris.

"George itu lagi kuliah di Inggris, saya ketemu di sana dari hasil konferensi bersama mahasiswa Indonesia di Inggris. Jadi George anak pintar dari keluarga miskin. Dia dapat kesempatan beasiswa dan dapat olimpiade Fisika. Dia dapat hadiah. Dia sudah mau dapat gelar PhD, sekarang," ungkap dia.

Adanya contoh George, Dino menambahkan, menggambarkan bahwa masyarakat yang biasa-biasa saja bisa berhasil, asalkan tekun dan giat menimba ilmu.

"Saya juga biasa-biasa saja, sekarang George lagi direbutin banyak negara untuk bekerja di luar. Saya harap dia balik ke sini lagi. Semua orang diaspora kita direbutin, karena talent kita bagus-bagus, jadi bisa bermanfaat bagi generasi ke depannya," tukas dia.
(CEU)