Cornelis Lay Dikukuhkan Sebagai Guru Besar FISIP UGM

Menjadi Bagian Kekuasaan, Ujian Besar untuk Kaum Intelektual

Citra Larasati    •    Jumat, 08 Feb 2019 12:40 WIB
Guru Besar
Menjadi Bagian Kekuasaan, Ujian Besar untuk Kaum Intelektual
Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, Cornelis Lay, UGM/Humas.

Yogyakarta:  Kuantitas atau jumlah kaum intelektual yang menggeluti bidang ilmu sosial, politik dan pemerintahan semakin meningkat.  Sementara, di sisi lain, secara kualitas terjadi proses pendangkalan produksi ilmu pengetahuan dan metode pemecahan masalah-masalah kemanusiaan.

Meningkatnya jumlah intelektual di bidang itu membuat label intelektual dihadirkan dengan beragam penyebutan, misalnya ahli, pengamat dan sebagainya yang dengan mudah disematkan pada sembarang orang.  “Dari waktu ke waktu, kita menyaksikan pengetahuan yang dihasilkan semakin monolitik.Sesuatu yang menurut saya mengungkapkan kealpaan pertarungan ide, perspekstif, apalagi paradigma dalam proses produksi ilmu pengetahuan sosial Indonesia kontemporer," kata Cornelis Lay, dalam keterangan pers, Jumat, 8 Februari 2019.

Prof. Dr. Cornelis Lay, MA mengatakan itu saat dirinya dikukuhkan sebagai Guru Besar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Dalam pengukuhan tersebut, dosen Departemen Politik dan Pemerintahan, Fisipol UGM ini menyampaikan pidato berjudul Jalan Ketiga Peran Intelektual: Konvergensi Kekuasaan dan Kemanusiaan.

Cornelis menuturkan, sepanjang pergaulan dan interaksi yang ia alami dengan banyak pelaku di dunia politik, ia menyaksikan sebagian dari mereka gagal pada jebakan yang paling sederhana. Yaitu ketika mendapat kekuasaan dan menempatkan kekuasaan sebagai sesuatu yang wajar, dan normal. 
 
Baca: UGM Kampus Terbaik Versi Webometric

Sementara itu, begitu banyak pelaku politik tergagap menerima kekuasaan dan berakhir dengan perilaku membelakangi akal sehat, dan menampakkan diri sebagai manusia kemaruk yang gila hormat.  "Ujian terbesar seorang intelektual bukanlah pada kemampuan dan kesiapannya untuk dengan lantang memaki kekuasaan dan para pelakunya, melainkan justru ketika ia bisa bersahabat dan menjadi bagian dari kekuasaan.  Sembari tetap mampu menjaga kewarasan dan karakter dasar intelektual dengan berpikir bebas dan bertindak bijak bagi kepentingan kemanusiaan," paparnya.

Sejumlah pejabat penting hadir dalam pengukuhan kali ini, diantaranya lima Menteri Kabinet Kerja Indonesia, Menteri Sekretaris Negara, Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Perhubungan. Selain itu, hadir pula Sekjen PDI-P, Wakil MPR RI dan Wakil Menteri ESDM.


(CEU)

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

3 weeks Ago

KPK memanggil Sekretaris Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Neg…

BERITA LAINNYA