Tantangan yang Dihadapi Bidang Psikologi di Indonesia

Gervin Nathaniel Purba    •    Selasa, 05 Mar 2019 12:42 WIB
Atma Jaya
Tantangan yang Dihadapi Bidang Psikologi di Indonesia
Psikolog di Indonesia diharapkan mengembangkan kemampuan pada bidang strategis (Foto:Shutterstock)

Jakarta: Bidang psikologi Indonesia menghadapi banyak tantangan. Selain jumlah psikolog yang belum memadai, fasilitas kesehatan jiwa yang kurang, psikolog juga diharapkan mengembangkan kemampuan pada bidang strategis.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013, Indonesia dengan penduduk sekitar 250 juta jiwa memiliki sekitar 451 psikolog klinis (0,15 per 100 ribu penduduk),  773 psikiater (0,32 per 100 ribu penduduk), dan perawat jiwa 6.500 orang (2 per 100 ribu penduduk). 

Angka tersebut masih jauh dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa jumlah tenaga psikolog dan psikiater dengan jumlah penduduk adalah 1:30 ribu orang, atau 0,03 per 100 ribu penduduk.

Selain tenaga psikolog yang masih kurang, belum banyak juga psikolog yang terlibat langsung pada bidang-bidang strategis. 

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya sekaligus Ketua Program Studi Master dan Doktoral Psikologi Unika Atma Jaya Prof Irwanto mencontohkan, saat ini baru Psikolog UI Zora Sukabdi yang mempelajari tentang terorisme dan radikalisme dari sisi psikologi.

"Psikolog Indonesia harus kita latih lagi. Misalnya, untuk kepentingan militer, khususnya angkatan udara. Bagaimana dua hingga tiga orang dapat memutuskan suatu permasalahan yang besar hanya dalam 10 detik. Bagaimana perang dari sisi psywar itu penting," ujar Irwanto.

Psikologi, kata Irwanto, bisa diterapkan pada berbagai bidang, namun di Indonesia implementasinya belum maksimal. Misal, psikologi arsitektur, periklanan, dan kebutuhan forensik dalam sistem peradilan. Penyebabnya, sistem pengajaran yang kurang tepat. 


Mahasiswa Unika Atma Jaya merayakan kelulusan (Foto:Dok.Unika Atma Jaya)

Menurut Irwanto, hal ini berkaitan dengan sistem pengajaran di Indonesia terlalu menganut teori barat. Artinya, sejak masih di bangku kuliah, mereka lebih banyak diajarkan teori. "Selain itu, kegagalan menerjemahkan dalam kondisi di Indonesia sendiri, sehingga kita lebih berteori yang enggak jelas. Hal ini dialami bukan hanya psikolog saja, psikiater juga," katanya.

Di sisi lain, psikologi sebenarnya bisa turut andil dalam proses pembuatan suatu kebijakan. Namun, psikolog sebagai profesi masih lemah karena tidak mempunyai undang-undang yang mengatur.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, dibutuhkan lembaga pendidikan yang tak hanya membekali calon psikolog dengan teori, namun juga membekali dengan kemampuan solutif. Unika Atma Jaya hadir menawarkan pola pendidikan yang berbeda. 


Guru Besar Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya sekaligus Ketua Program Studi Master dan Doktoral Psikologi Unika Atma Jaya Prof Irwanto (Foto:Medcom.id/Gervin Nathaniel Purba)

"Kalau di kelas saya, saya sering menugaskan mahasiswa datang ke seminar Bappenas. Mahasiswa pulang harus mengumpulkan tugas, entah wawancara atau menulis paper dua halaman," tutur Irwanto.

Di Atma Jaya, ada mata kuliah khusus yang mendorong peserta didik untuk berdiskusi bagaimana teori psikologi bisa diterjemahkan dalam suatu kebijakan. 

"Saya juga punya mata kuliah 'gado-gado.' Misalnya, kekerasan terhadap anak, itu ada unsur kriminologinya, kedokterannya, ada psikologinya juga," ujarnya.

Para mahasiswa psikologi Unika Atma Jaya diarahkan untuk lebih banyak belajar di luar demi menggali pengetahuan luas. Pola pengajaran ini berlaku untuk seluruh mahasiswa S1 hingga S3 di semua fakultas.

Hal itu dilakukan demi menghasilkan lulusan psikologi berkualitas yang merupakan tujuan Unika Atma Jaya, sesuai taglinenya "terpercaya kualitas lulusannya."


(ROS)

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

1 month Ago

KPK memanggil Sekretaris Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Neg…

BERITA LAINNYA