Generasi O Indonesia Terancam Penyakit Mematikan

Putri Anisa Yuliani    •    Kamis, 08 Nov 2018 19:49 WIB
kampanye hidup sehat
Generasi O Indonesia Terancam Penyakit Mematikan
Ilsutrasi. Foto Medcom Rizal

Jakarta:  Gaya hidup modern yang serba media sosial membuat masyarakat terpicu untuk mencapai sesuatu untuk dipamerkan di media sosial termasuk dalam hal pencapaian ekonomi. Namun, target ekonomi ini memberikan dampak buruk yang mana masyarakat mulai mengalami tekanan kerja yang berat sehingga timbul generasi O.
 
Generasi O adalah generasi yang akrab dengan tiga O, yakni overworked atau bekerja melebihi jam kerja, overweight atau memiliki berat badan berlebihan, hingga overwhelmed atau didera stres atau kelelahan.
 
Menurut pengamat gaya hidup Dwi Sutarjantono sebagian besar masyarakat yang masuk generasi O adalah pekerja kreatif dan pekerja lapangan. Mereka memiliki pemikiran yang rasional.
 
"Mereka punya pola pikir yang rasional dan selalu dikejar target dalam menyelesaikan pekerjaan. Pada akhirnya mereka sendiri terjebak pada rutinitas dengan beban tinggi," kata Dwi di Jakarta, Kamis, 8 November 2018.
 
Meskipun demikian, generasi O bukannya tidak memahami tentang gaya hidup sehat. Tetapi gaya hidup sehat justru tidak diimplementasikan melainkan hanya sebagai tren guna menghidupkan aktivitas di media sosial.
 
"Karena hidupnya berkutat di dunia maya. Melakukan apapun dikaitkan dengan dunia maya. Nah, bagaimana kita sekarang betul-betul harus bisa masyarakatkan hidup sehat," ujarnya.
 
Memasyarakatkan gaya hidup sehat sangat penting bagi semua pihak termasuk generasi O. Menurut dokter Timnas Sepakbola Wanita Indonesia Asian Games 2018, Grace Joselini, rutinitas kelebihan beban kerja, kelebihan konsumsi makanan hingga kelelahan dan minim aktivitas fisik dapat membawa penyakit tidak menular yang mematikan seperti jantung, diabetes, hipertensi, hingga stroke.
 
"Generasi O saat ini memiliki rutinitas duduk berlama-lama di belakang meja dengan minim aktivitas fisik. Padahal duduk lebih dari dua jam sehari mampu berakibat buruk dalam jangka panjang hingga ada istilah 'sitting is the new smoking'," ujar Grace.
 
Ia mengungkapkan rutinitas duduk lebih dari dua jam sehari tanpa diselingi aktivitas fisik mampu memperlambat kinerja hormon insulin, menghambat peredaran darah yang berakibat pada penyempitan pembuluh darah, hingga menurunkan kepadatan tulang yang berujung pada osteoporosis.
 
Dampak-dampak tersebut pada jangka panjang memiliki risiko penyakit yang sama dengan merokok.

Baca: Jokowi Dorong Hidup Sehat demi Tekan Pengeluaran BPJS

Untuk itulah bagi generasi O sangat penting untuk memulai aktivitas fisik ringan agar kesehatan tetap terjaga. Contoh aktivitas fisik ringan yang bisa dilakukan adalah lari selama 20 menit minimal tiga kali dalam sepekan atau jalan cepat 30 menit yang dilakukan lima kali dalam sepekan.
 
Di samping itu aktivitas fisik ringan perlu diselipkan dalam rutinitas kerja seperti perenggangan setiap dua jam duduk, naik turun tangga dua sampai tiga lantai perhari hingga berjalan kaki selama 10 menit.
 
"Sebisa mungkin menyelipkan berbagai aktivitas fisik ringan setelah duduk beberapa lama. Jangan lupa kontrol konsumsi makanan," ujarnya.




(FZN)