NSI

Wanita dalam Pusaran Narkoba

   •    Selasa, 21 Mar 2017 12:03 WIB
narkotika
Wanita dalam Pusaran Narkoba
Ilustrasi. Petugas kepolisian menyusun barang bukti hasil Operasi Antik (Anti Narkotika) Siginjai 2017 di Mapolresta Jambi. (Foto: ANTARA/Wahdi Septiawan)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bisnis haram narkotika sudah tak canggung masuk ke kawasan-kawasan pinggiran dan memanfaatkan para wanita untuk ikut berurusan di dalamnya. Penjara bahkan ancaman hukuman mati tak menggetarkan hati mereka untuk lepas dari jerat narkotika.

Sebutlah Putri, nama samaran, mantan pengguna dan pengedar narkoba yang sudah dua kali keluar masuk penjara karena narkoba. Bukannya jera, Putri sekalipun tak merasa bersalah telah terjerumus dalam pusaran narkoba.

"Uangnya banyak, untungnya lebih memuaskan. Bisa beli apa saja yang saya mau dan ketagihan untuk terus-terusan," ungkapnya dalam News Stroy Insight, Senin 20 Maret 2017.

Hanya berbekal kenalan, ibu rumah tangga yang sudah berpisah dengan suaminya ini menjalankan bisnis haram narkoba. Iming-iming uang yang besar menggerakkan Putri untuk ikut menyalahgunakan narkotika dan menjadikannya sumber mata pencaharian. 

Tak cuma di lingkungan tempat tinggalnya, penjara yang notabene ruangan sempit untuk membuatnya jera justru memberikan ilmu lebih banyak tentang narkoba. Setiap hari, dia bisa mendapatkan narkoba dengan mudah bila ingin. Rekan satu sel pun justru ikut serta.

"Awalnya takut tapi biasa saja karena di dalam juga banyak pemakai dan dapat barang lebih gampang. Sebelah kamar jualan, kalau mau beli banyak yang jualan," katanya. 

Meski harus diam-diam, nyatanya peredaran dan penggunaan narkotika di lapas tumbuh subur. Bahkan sang kurir dan pengedar bisa bebas keluar masuk lapas berbekal kongkalikong dengan sipir penjara. 

Sipir yang mengetahui aktivitas haram tetap bungkam, sementara yang lain memang tidak tahu. Mereka yang mengetahui hanya tinggal diimingi uang atau barang haram untuk ikut dinikmati. Petugas jaga yang berkeliling, tinggal dialihkan perhatiannya oleh napi bayaran yang bertugas menjaga aktivitas pemakaian dan peredaran.

"Sidak ada, tapi kita diberi tahu kalau misalnya akan ada sidak," ujar Putri.

Miris, faktor ekonomi disebut Putri menjadi penyebab suburnya peredaran dan pemakaian narkoba di luar dan di dalam lapas. Tak ada yang bisa menghentikan termasuk ancaman hukuman mati.

"Tidak ada pengaruh, enggak ada masalah. Mereka yang akan di hukum mati biasa-biasa saja karena memang sudah resiko," katanya.

Kapok, usai masuk ke lapas untuk kedua kalinya Putri memilih 'pensiun' dari bisnis narkoba. Meskipun ada keinginan untuk kembali karena jumlah uang besar yang bisa didapatkan, bagi Putri sudah cukup dan ia ingin kembali ke keluarganya.

"Sudah cukup. Anak bilang jangan narkoba, Insya Allah pengin kerja benar saja," ungkapnya. 




(MEL)