Kalla Prihatin Teror Bom Surabaya Libatkan Anak-anak

Dheri Agriesta    •    Selasa, 15 May 2018 19:57 WIB
terorismeTeror Bom di Surabaya
Kalla Prihatin Teror Bom Surabaya Libatkan Anak-anak
Wapres Jusuf Kalla di hari ulang tahun - Medcom.id/Dheri Agriesta.

Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla tak habis pikir aksi teror di Surabaya dan Sidoarjo melibatkan anak-anak. Kalla tak bisa membayangkan perbincangan orang tua dan anak sebelum melakukan aksi.

"Saya bayangin, apa yang dia bilang kepada anaknya sebelum pergi, mesti dia bilang 'Nak, ya kita ketemu di surga', (lalu) jadi rela (melakukan aksi)," kata Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa, 15 Mei 2018.

Kalla mengatakan, aksi bom bunuh diri sulit dideteksi. Karena, aksi yang dilakukan itu tak wajar dan tak masuk akal. Aksi juga dilakukan secara spontan.

Apalagi, ledakan bom di tiga gereja di Surabaya dan Mapolrestabes Surabaya melibatkan anak-anak. Kalla mencontohkan aksi di Mapolrestabes Surabaya. Dua motor hendak masuk ke dalam Maporestabes Surabaya.

Baca: Satu Terduga Teroris Tewas Dalam Baku Tembak

Salah satu motor membonceng seorang anak kecil di bagian depan. Saat hendak diberhentikan petugas jaga, pelaku meledakkan bom yang dibawanya.

"Karena mungkin dia (petugas) pikir kalau orang bonceng anaknya dibonceng di depan ini orang baik-baik, ternyata seperti itu, jadi memang tidak mudah apabila orang mau bunuh diri," jelas Kalla.

Ketua Umum Palang Merah Indonesia ini menilai, pelibatan anak-anak dalam aksi terorisme sangat menyayat hati. Ia bahkan menyebut, aksi bom bunuh diri di Surabaya merupakan aksi paling menyedihkan karena melibatkan anak kecil.

"Di samping tentunya kita kutuk, sangat menyedihkan karena anak-anak diikutsertakan," tegas orang nomor dua di republik itu.

Baca: Psikolog: Anak Terpapar Radikalisme Merasa Hebat saat Mengokang Senjata

Minggu 13 Mei 2018, publik kaget dengan serangan teror di Surabaya. Tiga gereja dibom satu keluarga terduga teroris. Belasan orang tewas dan puluhan luka-luka dalam peristiwa ini. Pada malam hari, ledakan juga pecah di dua titik di Sidoarjo, Jawa Timur.

Aksi serangan di tiga gereja itu dilakukan satu keluarga. Sang ayah Dita Upriyanto merupakan pengemudi mobil yang meledakkan diri di Gereja Pantekosta, Jalan Arjuno. Sebelum meledakkan diri, Dita sempat menurunkan istrinya Puji Kuswati dan dua anaknya FS, 12, dan VR, 9.

Puji dan dua anak perempuan itu meledakkan diri di GKI Diponegoro. Sementara itu, dua anak lelaki Dita, Yusuf Fadil, 18, dan FH, 16, berangkat menggunakan sepeda motor ke Gereja Santa Maria Tak Bercela. Mereka meledakkan diri menggunakan bom yang diletakkan di pinggang.

Teror tak berhenti di situ, Senin, 14 Mei 2018, sebuah bom meledak di depan Mapolrestabes Surabaya. Bom terlihat dibawa kendaraan roda dua. Pengebom meledakkan bom saat polisi memberhentikan kendaraan mereka saat memasuki gerbang gedung.




(DMR)