Melukis Teknik "Batik Dingin"

Wanita dalam Citra Harimau Betina

Citra Larasati    •    Kamis, 26 Apr 2018 12:56 WIB
pameran lukisan
Wanita dalam Citra Harimau Betina
Nurul Primayanti, perupa sekaligus dosen bersama karyanya


Jakarta:  Sebuah lukisan bertuliskan "Think Big" mencuri perhatian, saat tergantung di ruang pamer Bentara Budaya Bali dalam Pameran Lukisan bertajuk "Sang Subyek" yang digekar hingga 30 April 2018 ini. Lukisan seorang wanita  menggenggam gelas berwarna fuschia berisi kopi, tertumpah diatas meja memberi kesan cerminan mengejutkan, karena pantulan yang muncul adalah citra seekor harimau betina.

Nurul Primayanti, perupa Think Big yang ditemui di Jakarta, Kamis, 26 April 2018 menjelaskan, lukisan itu merupakan bentuk pencerminan definisi diri seorang wanita.  Wanita, yang tidak lagi dapat diposisikan lemah, terjajah, bahkan kadang terbatas dalam kontekstual berprofesi dan berkarya.

"Karakter Harimau di sini menggambarkan bahwa karakter wanita yang selama ini diasosiasikan lembut seperti seekor kucing betina, namun kenyataan dalam berkarya dan berprofesi membuktikan wanita itu memiliki kekuatan lebih, dengan diasosiasikan karaktetistik harimau betina," kata Nurul.

Terminologi Sang Subyek , tergambar tegas adalah seorang wanita berkarakter feminisme digambarkan  gelas kopi berwarna Fuschia ini.  Nurul merupakan salah satu dari pelukis perempuan Indonesia di Komunitas 22 Ibu yang dilibatkan dalam pameran untuk memperingati tanggal dan bulan lahirnya pahlawan nasional sekaligus tokoh emansipasi , Raden Adjeng Kartini pada 21 April.

Hal menarik dari sebagian karya dalam pameran ini menggunakan media kanvas dan juga menggunakan Teknik Gutha Tamarin.  Teknik Gutha Tamarin ini merupakan pengembangan teknik batik yang menggunakan bahan dasar biji buah asam yang dihaluskan.

Bubuk asam kemudian dihaluskan dan dicampur air secukupnya, dan sedikit lemak nabati seperti margarin  sehingga berubah menjadi sejenis tekstur pasta.  Fungsi dari pasta ini sebagai pengganti perintang cairan lilin yang digunakan pada teknik batik tradisonal di tanah air.

Perbedaan mendasar dengan teknik batik tradisional adalah tidak menggunakan kompor sehingga sering disebut dengan teknik “batik dingin”. Teknik Gutha Tamarin dipadukan dengan goresan kuas, sehingga terdapat konsep mixed media antara teknik batik dan lukis dalam kain sutra.

Gutha Tamarin memadukan berbagai teknik dalam karya  seni rupa (mixed media) sebagai upaya membangun kreativitas di kalangan seniman. "Tantangan berat dalam eksplorasi gutha tamarin dan goresan kuas dalam kain sutra, adalah menghadirkan kekuatan karakter wajah tokoh sehingga risiko kegagalannya relatif tinggi," ungkap Nurul yang juga dosen desain produk Podomoro University ini.

Komunitas 22 Ibu bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali juga mengadakan pelatihan (workshop) teknik membatik dengan bubur tamarin.  Peserta pelatihan  berasal dari kalangan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seni di Bali, siswa SMA, juga SMP.

Komunitas 22 Ibu berbaur dengan masyarakat umum membuat garis, lingkaran, sehingga membentuk objek-objek yang menarik.  Pelatihan tersebut, kata Nurul, bertujuan untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat umum tentang pengembangan material "batik dingin".

Tekhnik ini juga memiliki misi mengkampanyekan batik Eco Green kepada akademisi dan masyarakat umum. "Meningkatkan life skill masyarakat melalui batik yang ramah lingkungan," jelas pengajar Bahasa Belanda di Gerakan Indonesia 2030 - Euro Management ini.
 


(CEU)

Kasus KTP-El, Anggota DPR Markus Nari Ditahan KPK

Kasus KTP-El, Anggota DPR Markus Nari Ditahan KPK

2 weeks Ago

Jakarta: KPK menahan anggota DPR dari Fraksi Golkar Markus Nari, Senin, 1 April 2019. Markus me…

BERITA LAINNYA