Persaingan di Era Revolusi Industri 4.0

UAI Pastikan Mahasiswanya Melek TIK

   •    Sabtu, 11 Aug 2018 20:31 WIB
beasiswa osc
UAI Pastikan Mahasiswanya Melek TIK
Suasana Wisuda Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.

Jakarta:  Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) menerapkan program Melek TIK (teknologi informasi dan komunikasi) sejak Januari 2018 lalu.  Program tersebut diterapkan, untuk memastikan setiap alumni UAI siap menyongsong era revolusi Industri 4.0.

Rektor UAI, Asep Saefuddin mengatakan era revolusi industri 4.0 adalah sebuah keniscayaan, sehingga menuntut seluruh bidang untuk adaptif menghadapi perubahan, tidak terkecuali dunia pendidikan. Untuk itu, Asep mengambil langkah antisipatif untuk menghadapi era yang serba digital tersebut, salah satunya dengan mendekatkan mahasiswanya kepada pemanfaatan TIK.

"Salah satu langkah yang diambil dengan memanfaatkan Teknologi Informasi serta literasi baru dalam coding, big data hingga entrepreneurship," kata Asep di Wisuda UAI ke-19, di Gedung BPPT, Jakarta, Sabtu, 11 Agustus 2018.

Dalam pidatonya Asep menyampaikan,  sejak semester ini (Januari 2018), anak didiknya telah digalakkan untuk melek terhadap dunia IT, dengan mengedukasi penggunaan sistem coding. Di mana media pembelajaran lebih bersifat diskusi membahas studi kasus yang ada.

"Ada hari dinamakan The Day of Code, semua jurus harus memahami konsep coding, bukan untuk jadi programmer tapi memahami konsep berpikir dari programming," ujarnya.

Baca: 17 PTS Favorit Bergabung dalam Beasiswa OSC 2018

Asep berharap, keakraban mahasiswa UAI dengan dunia IT sejak di bangku kuliah, dapat mempermudah alumni untuk menyesuaikan diri dengan dunia kerja.  Ia menambahkan, dampak revolusi industri 4.0 di antaranya adalah dapat membuat sejumlah jenis pekerjaan yang hilang, dan digantikan dengan jenis pekerjaan baru. 

"Bisa terjadi pengurangan kebutuhan sumber daya manusia pada sektor yang krusial seperti petani, peternak, petugas pos, penjahit dan sebaginya, yang nantinya akan berpotensi diganti oleh robot. Di sinilah peran Perguruan Tinggi  dapat meningkatkan kreativitas pada mahasiswa dan mahasiswi," terangnya.

Menurut Asep, UAI juga akan terus membangun ekosistem pendidikan tidak saja mengajar what to learn, tetapi justru how to learn dengan pendekatan kreatif.  Mahasiswa yang sudah memiliki inovasi, kata Asep, dapat menjadi penggerak dalam perubahan zaman.  "Bukan sebaliknya, tergusur oleh the great shifting," jelas DIa.

Ia menambahkan, mahasiswa selalu diajak berpikir visioner, agar mampu mengimplementasikan gagasan.  Perlu diketahui, pada tahun ini UAI telah berhasil mencetak 185 wisudawan dan wisudawati yang memiliki nilai-nilai keislaman dalam berbagai kegiatan.


(CEU)