Pesan Penyandang Disabilitas Netra Lewat Pentas Tari Kecak

Pesan Penyandang Disabilitas Netra Lewat Pentas Tari Kecak
Para penari Kecak, penyandang diaabilitas netra dari Panti Sosial Bina Netra Mahatmiya di Bali. (MTVN)

Tabanan: Menyaksikan tarian khas tradisional Bali, Kecak, bisa bikin bulu kuduk merinding. Tarian ini dipentaskan dengan ritme dan gerakan yang penuh simbol, bak sebuah ritual suci yang menghubungkan alam sadar dengan alam lain.

Belum lagi, tari kecak tak diiringi dengan alat musik atau gamelan. Sorak-sorak nan khas dari para penari pria yang menggema dan menjadi irama bagi seluruh lakon pertunjukan.

Sorakan sahut menyahut yang mereka kumandangkan amat bertenaga, memberi sensasi mistis, namun mengalun indah dan membius. Lewat penyelenggaraan Tari Kecak di Wantilan Pura Tanah Lot, Tabanan, Bali, 28 November 2017, kelompok dari Panti Sosial Bina Netra Mahatmiya ini memukau ratusan penonton yang mayoritas wisatawan mancanegara.

"Saat kami masih bersiap-siap, mereka (penonton) sudah menunggu. Dari situ antusiasme mereka kelihatan. Mereka mau menunggu dan bertanya-tanya jam berapa penampilannya," ujar Kepala Panti Sosial Bina Netra Mahatmiya, seusai pementasan.

Ia menjelaskan, upayanya ini mendapat apresiasi dari Museum Rekor Indonesia. Piagam penghargaan diberikan saat puncak acara peringatan Hari Disabilitas Internasional berlangsung pada 3 Desember 2017 di Yogyakarta.



MURI menilai pementasan ini layak dicatat sebagai Rekor Dunia karena merupakan Pagelaran Tari Kecak oleh penyandang Disabilitas Netra Terbanyak, yaitu 230 peserta. Namun, Supena berharap penghargaan kepada kelompoknya tidak berhenti di situ saja.

Menurut dia, Panti Sosial Bina Netra Mahatmiya  merupakan Unit Pelaksana Teknis Kementerian Sosial yang bertugas untuk menyelenggarakan rehabilitasi sosial terhadap penyandang disabilitas netra. Visinya adalah mewujudkan kesetaraan dan kemandirian penyandang disabilitas netra di masyarakat.

Nah, tari kecak yang dipentaskan kelompoknya ini merupakan upaya mewujudkan amanah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas. Terutama jika merujuk pasal 16 yang menegaskan hak bagi penyandang disabilitas memperoleh kesamaan dan kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan seni dan budaya maupun usaha pariwisata.

"Inilah implementasinya. Ini juga yang mendasari kami menyelenggarakan pentas," kata Supena.

Tari Kecak semula difungsikan sebagai tarian yang memiliki nilai kesakralan, sarana "penyerahan diri" kepada Sang Pencipta. Namun, kemudian bergeser menjadi sarana hiburan.  



Sejak 1930-an, Tari Kecak menggunakan cerita epos Ramayana. Meski mengisahkan tentang perjuangan prajurit kera Hanoman yang membantu Sri Rama melawan Rahwana dalam merebut kembali Dewi Shinta, tari tersebut masih mengedepankan unsur kebudayaan Bali yang kental. Ciri khas budaya Hindu Bali memberikan suguhan berbeda.

Kekhasan itulah yang masih dipertahankan hingga sekarang. Tak mengherankan apabila para penonton senantiasa terkesima dengan tarian yang berlangsung selama satu jam itu.

Bagaimana penyandang tuna netra ini bisa menampilkan tarian ini dengan apik? Supena mengungkapkan, kuncinya tentu saja latihan dengan sebaik-baiknya. Dari 230 orang peserta pagelaran tari kecak ini, 50 orang di antaranya rutin latihan selama sebulan.

"Sisanya, hanya latihan tiga hari," kata dia.

Ia menambahkan, 230 orang penyandang disabilitas netra ini dikumpulkan melalui jaringan panti sosial di lima provinsi. Yaitu Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tenggara.

"Mereka setelah diajari jadi menguasai Tari Kecak. Agak sulit juga mengajari tuna netra menari kan. Kita bilang, angkat tangan dan gerakkan. Mereka malah balik tanya, gerakkan seperti apa, pak? Jadi, mesti diajari satu per satu ke mereka gerakannya," papar Supena sembari terkekeh.


Wisatawan menikmati liburan di obyek wisata Tanah Lot, Tabanan, Bali. (ANTARA/Nyoman Budhiana)

Ia pun mengaku sengaja memilih Tanah Lot sebagai lokasi yang strategis untuk menyelenggarakan pementasan ini. Tanah Lot memiliki pura yang jadi ikon wisata Bali. Pura Tanah Lot ini diyakini bakal banyak dikunjungi warga maupun turis.

"Itu terbukti. wisatawan berbondong-bondong menyaksikan ini. Lokasi penyelenggaraan kami memang dilalui wisatawan yang mau menuju Pura Tanah Lot," kata Supena.

Untuk diketahui, Tanah Lot yang berada di Kabupaten Tabanan ini terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.

Pada sisi sebelah utara Pura Tanah Lot, ada sebuah pura lain yang dibangun di atas tebing yang menjorok ke laut. Pura ini disebut Pura Karang Bolong.

Waktu tempuh bagi wisatawan dari Denpasar ke Tanah Lot jika mengendarai mobil sekitar satu jam. Jika dari Legian dan Seminyak, kira-kira 45 menit. Sedangkan dari Ubud bisa ditempuh kurang lebih 30 hingga 40 menit.


Pura menjorok ke laut di Tanah Lot. (MI/Panca Syurkani)
 


(ADM)

Asep Iwan: Proses Hukum Terus Berlangsung Meski Setnov Bungkam

Asep Iwan: Proses Hukum Terus Berlangsung Meski Setnov Bungkam

3 minutes Ago

Pakar hukum pidana Asep Iwan Iriawan menerangkan bahwa drama apapun tak akan mengganggu proses …

BERITA LAINNYA