Perjuangan Perempuan Nelayan Mendapatkan Pengakuan Pemerintah

Whisnu Mardiansyah    •    Senin, 17 Oct 2016 18:10 WIB
nelayan
Perjuangan Perempuan Nelayan Mendapatkan Pengakuan Pemerintah
Nurlina -- MTVN/Whisnu Mardiansyah

Metrotvnews.com, Jakarta: Profesi sebagai seorang nelayan bukan pilihan hidup Nurlina. Sepeninggal ayahnya, wanita asal Pangkajene, Sulawesi Selatan, itu terpaksa harus berhenti sekolah dan menjadi nelayan untuk menyambung hidup keluarganya.

Nurlina mulai melaut sejak usia 12 tahun. Tidak ada pilihan lain baginya, karena ayahnya hanya meninggalkan perahu bagi dia dan ibunya.

Tidak mudah bagi Nurlina kecil menjalani hidup sebagai nelayan. Pukul 05.00, dia sudah harus mengokang perahu untuk melaut. Dia baru kembali ke darat ketika terik matahari sudah terpancar di lautan.

"Biasa melaut dari jam 5 pagi sampai jam 11 siang," kata Nurlina kepada Metrotvnews.com, Senin (17/10/2016).

Seharian bekerja keras, penghasilannya dari melaut tidak cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Usahanya kalah dengan kapal besar yang biasa mendapatkan tangkapan ikan dalam jumlah besar sekali melaut.

Anak kedua dari dua bersaudara itu akhirnya hanya mencari kepiting. Sekali melaut, tak lebih dari satu kilogram kepiting yang bisa didapatkan Nurlina.

"Per hari saya jual Rp22 ribu per kilo," katanya.

Demi menutupi kebutuhan hidup, Nurlina menjalani pekerjaan sampingan sebagai pengikat rumput laut. Satu ikatan rumput laut dibayar Rp3 ribu. Pekerjaan itu ia jalani sehari-hari selepas pulang melaut.

Sebagai pelaut, Nurlina tak jarang harus berhadapan dengan ombak besar dan cuaca buruk. Bahkan, ia pernah hampir tenggelam digulung ombak ketika melaut. Beruntung, sang paman datang menolong.

Selain cuaca dan ganasnya laut, Nurlina juga harus menelan cibiran dari sesama nelayan yang didominasi para lelaki. Namun, Nurlina berusaha tegar menerima.

Perlakuan diskriminatif, kata Nurlina, juga didapatkan dari pemerintah. Meskipun telah bertahun-tahun menjadi nelayan, Nurlina tidak pernah menerima bantuan karena tidak dianggap nelayan.

"Saya mengajukan proposal, kartu tanda nelayan selalu ditolak," jelasnya.

Perjuangannya untuk mendapatkan pengakuan tidak berhenti. Bersama kelompok Sekolah Perempuan di Pangkajene Kepualauan, Nurlina menunjukkan peran perempuan dalam produksi pangan.

Pelan-pelan, usahanya mulai berbuah manis. Nelayan perempuan pun mulai diakui keberadaannya oleh pemerintah.

"Ini kartu nelayan dapatnya sulit sekali. Dengan kartu inilah saya dapatkan jaminan sosial dari pemerintah," ujarnya.

Tak ingin perempuan-perempuan di pulaunya mengalami nasib sama seperti dirinya, Nurlina setiap hari secara sukarela mengantarkan anak-anak menyeberang pulau untuk bersekolah. Menurutnya, pendidikan adalah aspek penting untuk meningkatkan taraf hidup seseorang.

"Yang saya bawa anak-anak SMP dan SMA. Saya sukarela membantu. Cukup saya saja yang merasakan putus sekolah," katanya.

Atas perjuangannya Oxfam di Indonesia menganugerahi dirinya bersama delapan wanita lainnya sebagai Perempuan Pejuang Pangan di Indonesia 2016.

 


(NIN)