Kisah Seliwati Lawan Sawit dengan Jengkol

Whisnu Mardiansyah    •    Senin, 17 Oct 2016 16:45 WIB
pertanian
Kisah Seliwati Lawan Sawit dengan Jengkol
Seliwati -- MTVN/Whisnu Mardiansyah

Metrotvnews.com, Jakarta: Apa yang Anda tahu tentang jengkol? Pasti jawabnya, bau menyengat dan tajam. Agak pahit pula. Nah, siapa sangka kalau banyak lidah warga Indonesia ternyata cocok dengan rasa biji-bijian itu.

Faktanya begitu. Jengkol jadi naik pamor. Di banyak daerah, bijian bernama latin Archidendron Pauciflorum itu dibudidayakan karena menjanjikan dari sisi ekonomi.

Tapi, tak mudah membudidayakan jengkol. Kisah Seliwati, bisa jadi contoh. Di awal-awal, banyak yang mencibir usahanya. Seliwati bahkan sampai dianggap aneh.

Dianggap aneh karena Seliwati menabrak kebiasaan dan kewajaran warga Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Juga kebanyakan daerah di Sulawesi. Saat itu, hampir semua warga Sulawesi, lebih akrab dengan tanaman merica.

Selain penerimaan dari masyarakat, Seliwati harus berhadapan dengan perusahaan-perusahaan perkebunan dengan skala besar yang mengekspansi lahan pertanian warga untuk dijadikan kebun kelapa sawit. Lahan pertanian miliknya pun tak luput ikut dicaplok salah satu BUMN perkebunan.

"Tanah milik sendiri yang direbut oleh PTPN 15 akhirnya kita rebut kembali dan kita kelola," kata Seliwati kepada Metrotvnews.com, Senin (17/10/2016).

Ide awal Seliwati untuk menekuni budidaya jengkol bermula dari tetangganya dari Pulau Jawa. Sudah 30 tahun tetangganya itu menjadi petani jengkol.

Seliwati melihat, budidaya tanaman jengkol tidak butuh perawatan khusus. Satu pohon jengkol sudah bisa berproduksi pada usia lima tahun.

Semakin tua pohon jengkol, semakin produktif berbuah. Secara hitung-hitungan ekonomi, satu pohon jengkol sekali panen dapat untung Rp500 ribu.

"Kita sudah kalkulasi, 100 pohon kita kali Rp500. Panen setahun dua kali," kata Seliwati.

Dalam satu hektare lahan, lanjut Seliwati, bisa ditanami 80-100 pohon jengkol. Di lahan miliknya, Seliwati menanam 2.000 pohon jengkol. Satu kilogram jengkol dijual seharga Rp20 ribu.

"Sudah terbukti, jengkol bisa menjanjikan," kata Seliwati.

Jarak menanam satu pohon jengkol dengan lainnya 10 meter. Sehingga, di sela-sela pohon jengkol bisa ditanami tanaman lain, seperti palawija dan cabai. Keuntungan pun bisa semakin berlipat.

Setelah menuai sukses, Seliwati kini aktif mengajak masyarakat membudidaya tanaman jengkol. Ia mencoba meyakinkan, bahwa jengkol lebih unggul dalam hal ekonomi dari pada sawit. Tanaman jengkol bisa juga menjaga lingkungan agar tetap lestari karena akarnya bisa menahan tanah tidak longsor.

"Akar tanaman jengkol menancap keluar, mampu menahan longsor," jelasnya.

Atas perjuangannya, Seliwati mendapat penghargaan dari Oxfam di Indonesia bersama delapan wanita lainnya sebagai Perempuan Pejuang Pangan di Indonesia 2016.

 


(NIN)