Rektor IPB Ragukan Efektivitas Pemantauan Aktivitas Digital

Intan Yunelia    •    Selasa, 12 Jun 2018 14:02 WIB
Radikalisme di Kampus
Rektor IPB Ragukan Efektivitas Pemantauan Aktivitas Digital
Rektor IPB, Arif Satria di Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Medcom.id/Citra Larasati

Jakarta: Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria tak sepakat dengan rencana pemerintah memantau aktivitas digital (telepon seluler dan media sosial) seluruh sivitas akademika. Pihaknya lebih memilih cara persuasif, dengan pendekatan biologis, merangkul mahasiswa dan dosen.

"Kami tidak akan represif, kami akan melakukan pendekatan biologis, persuasif, sehingga kampus benar-benar kondusif," kata Arif dalam sebuah diskusi di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Senin 11 Juni 2018.

Mantan Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB ini mengaku, tidak masalah jika IPB dicap sebagai salah satu kampus yang terpapar radikalisme oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Ia jadikan hal itu sebagai masukkan dan kritik.

Namun, pihaknya memiliki cara tersendiri untuk menangani radikalisme di lingkungan kampus. Bukan dengan cara represif seperti yang direncanakan Kemenristekdikti.

"Serahkan pada kami untuk melakukan upaya-upaya mengatasi tersebut," ucap Arif.

Baca: Bersihkan Terorisme, BNPT Akan Masuk Kampus

Arif mengklaim dengan cara persuasif pun terlihat dampaknya lebih efektif. Tidak ada rasa saling mencurigai antara pihak kampus dengan mahasiswa dan dosennya.

"Sekarang sudah kondusif, dan menurut saya pola pola persuasif, bangun kepercayaan, terbukti sudah berjalan bagus," ujar Arif.

Adapun ia tetap menghormati kebijakan pemerintah memantau aktivitas digital mahasiswa dan dosen. Sementara, kewenangan di kampus tetap ada di pihak rektorat.

"Yang penting kami tegaskan bahwa kami punya komitmen besar, untuk bersama lembaga-lembaga pemerintah dalam menangkal radikalisme itu," pungkasnya.


(CEU)