Penderita Stunting Bisa jadi Beban Bangsa

Whisnu Mardiansyah    •    Minggu, 16 Sep 2018 11:57 WIB
stunting
Penderita Stunting Bisa jadi Beban Bangsa
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Menkes Nila Moeloek/Medcom.id/Nur Azizah

Jakarta: Sebanyak dari 10 anak di Indonesia menderita stunting pada 2013. Anak-anak itu bisa menjadi beban bangsa bila Indonesia tak segera menurunkan angka penderita stunting.

"Di tahun 2013 mencatat 37,2 persen rata-rata anak Indonesia. Artinya dari 10 anak, 4 penderita stunting itu akan menjadi beban bangsa," kata Menteri Kesehatan Nila F.Moeloek di kawasan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Minggu, 16 September 2018.

Masalah stunting bukan saja menyerang kondisi fisik anak dengan ciri gizi buruk kronis dan fisiknya mengerdil. Penyakit itu juga menyasar pada pengerdilan otak dan membuat anak sulit berkembang dalam pembelajaran.

"Jadi artinya anak-anak itu tidak pandai jadinya, nanti jadi beban bangsa," tegas dia.

Baca: Stunting Berpotensi Merugikan Negara Rp300 Triliun per Tahun

Padahal, kata Nila, Indonesia sama sekali tak kekurangan sumber daya asupan nutrisi dari sayur-sayuran dan protein. Stunting justru terjadi karena perilaku dan gaya hidup orang tua kepada anak di masa balita.

"Bagaimana 1.000 hari itu masa kritis, berarti dari kandungan sampai anak berumur 2 tahun, kalau kita melihat anak kita jangan lupa ASI ekslusif, makanan pendamping yang tepat," jelas dia.

Pemerintah menargetkan menekan prevalensi stunting sekitar 9 persen dari 37,2% pada 2019. Pemerintah bakal menggunanakan Anggaran Pendapatan dan Pembelanjaan Negara (APBN) untuk membangun sumber daya manusia (SDM) pada 2019. Salah satu caranya, merevitalisasi posyandu, pemberian vitamin, obat cacing, imunisasi gratis, dan bantuan makanan tambahan.


(OJE)