Kemendikbud Diminta Cabut Izin SMK Semimiliter di Batam

Intan Yunelia    •    Jumat, 14 Sep 2018 16:40 WIB
Kekerasan di Sekolah
Kemendikbud Diminta Cabut Izin SMK Semimiliter di Batam
Anggota Komisi X DPR RI, Nizar Zahro (tengah), MI/Susanto.

Jakarta: Anggota Komisi X DPR RI, Nizar Zahro meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencabut izin SMK Penerbangan SPN Dirgantara Batam, Kepulauan Riau yang diduga menerapkan disiplin semimiliter dalam proses belajar mengajar.  Aturan tersebut melenceng dari UU sistem pendidikan nasional (sisdiknas)

"Dalam kasus SMK yang mempraktikkan disiplin semimiliter, maka Kemendikbud atau Dinas Pendidikan harus mencabut ijinnya karena sudah melanggar UU Sisdiknas," kata Nizar di Jakarta, Jumat, 14 September 2018.

Menurutnya semua lembaga pendidikan harus mengacu kepada UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2013.  "Tidak boleh ada lembaga pendidikan yang mengacu pada aturan lain," ujar Nizar.

Hukuman sel tahanan di sekolah jelas tidak dibenarkan. Hukuman itu sama sekali tidak mencerminkan dunia pendidikan. 

"Sekolah tidak boleh membuat sel tahanan. Senakal apapun, anak didik tidak boleh dijebloskan ke dalam sel tahanan," terangnya.

Adapun hukuman siswa yang masuk kategori ranah pidana, sebaiknya diserahkan kepada pihak kepolisian. Sekolah tidak berhak menetapkan hukuman meniru model hukuman pidana. 

"Polri sudah memiliki bagian penanganan anak-anak," tandasnya.

Apabila pihak sekolah dan kepolisian sudah turut campur tangan dalam kenakalan siswa tersebut namun tak kunjung reda, siswa wajib dipulangkan ke orang tua masing-masing.

"Bila pihak sekolah sudah tidak mampu mendidik anak tersebut, maka langkah yang arif adalah dengan mengembalikan anak tersebut kepada orang tuanya," ujar Nizar.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima laporan adanya hukuman berupa kurungan di dalam sel tahanan sekolah, di sebuah SMK di Batam, Kepulauan Riau.   Pihak sekolah berdalih, hukuman tahanan ini merupakan upaya sekolah dalam mendisiplinkan siswa yang melanggar aturan.

Dari keterangan yang diterima KPAI, proses belajar dan mengajar di sekolah tersebut tidak berjalan normal seperti sekolah lainnya. Sebab proses latihan fisik lebih banyak dibandingkan dengan pembelajaran akademik dengan guru.

Dalam latihan semimiliter itu, anak-anak diajarkan cara menembak dengan menggunakan senapan angin, juga diajarkan mengemudi kendaraan-kendaraan taktis.

Lihat Video:

 


(CEU)