Kisah Novry, 11 Tahun Bekerja di Lokasi Bencana

   •    Selasa, 09 Oct 2018 17:19 WIB
Gempa Donggala
Kisah Novry, 11 Tahun Bekerja di Lokasi Bencana
Sejumlah anggota Basarnas dan TNI melakukan evakuasi korban gempa di Hotel Roa- Roa, Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: ANTARA/Akbar Tado)

Jakarta: Sebelas tahun bergabung sebagai anggota Badan Nasional Pencari dan Pertolongan Nasional (Basarnas) bukan waktu yang sebentar bagi Novry Wulur. Selama itulah ia mengenyam pahit manis menjadi garda terdepan di balik peristiwa-peristiwa bencana di dalam negeri. 

Novry hanyalah pemuda biasa, ia bergabung dengan Basarnas pada 2007 dan saat ini bergabung bersama anggota tim khusus. 

"Oktober tahun ini genap 11 tahun. Pernah tugas di Maluku sekitar 4,5 tahun kemudian pindah ke Basarnas pusat di Jakarta, untuk operasi SAR karena tugas saya di Jakarta jadi sudah ke mana-mana," ujar Novry dalam Program Khusus Metro TV, Selasa, 8 Oktober 2018.

Tak hanya di lokasi gempa dan tsunami Sulawesi Tengah, Novry mengaku pernah bertugas dalam penyelamatan korban kapal tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara, beberapa bulan lalu.

Bahkan ia juga terlibat dalam operasi pencarian dan pertolongan jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 2017 silam dan hilangnya pesawat Malaysia Air MH370. 

Namun, dari sekian pengalaman, Novry mengungkapkan momen paling menyedihkan di balik operasi pencarian dan pertolongan yang ia alami adalah saat melakukan evakuasi korban kapal tenggelam di Danau Toba.

"Kami tidak bisa mengevakuasi jenazah yang sudah diketahui keberadaannya di kedalaman 350 meter. Keterbatasan manusia khususnya tim penyelamat hanya mampu menjangkau maksimal 70 meter saja," tuturnya.

Ketidakmampuan tim penyelamat mengevakuasi korban kapal tenggelam di Danau Toba menjadi pengalaman paling menyakitkan bagi Novry. Betapa tidak, kendati bisa dijangkau oleh alat canggih perlu upaya ekstra untuk mendatangkan alat-alat itu sampai ke Danau Toba.

Namun, ia mengatakan keputusan untuk tidak mengangkat jenazah korban adalah yang terbaik. Selain karena keterbatasan alat, ia khawatir jasad yang sudah lama berada di air ketika diangkat ke permukaan akan hancur menimbulkan persoalan baru.

"Itu paling menyedihkan selama operasi SAR, tapi keputusan itu bukan hanya dari Basarnas. Kelurga korban sampai pemerintah sepakat keputusan itu yang diambil," ungkapnya.

Selain tak mampu mengevakuasi korban, Novry mengatakan duka lain yang ia alami juga terkadang datang dari orang-orang terdekat, terutama sang calon istri. 

Pekerjaan di lokasi bencana yang membuat Novry tak bisa setiap saat berkumpul bersama keluarga dan orang terkasih terkadang menjadi hambatan. Bahkan saking sibuknya melakukan pertolongan, Novry kadang khilaf tak memberi kabar.

"Tapi dengan ketenangan, anggota SAR kan bagus dalam menenangkan akhirnya bisa mengerti juga," kata dia.

Meski kerap mengalami duka saat bertugas, Novry mengatakan melakukan operasi penyelamatan merupakan kebanggan tersendiri. Ia mengatakan perasaan luar biasa kerap membuncah saat korban yang ditolong berhasil selamat dan bisa berkumpul lagi bersama keluarga.

"Itu jadi kebanggaan utama tim Basarnas bila mendapatkan korban dalam keadaan hidup," pungkasnya.




(MEL)