Mbatik Bebas Limbah ala UKWMS

M Studio    •    Jumat, 09 Feb 2018 15:13 WIB
beasiswa osc
<i>Mbatik</i> Bebas Limbah ala UKWMS
Profesor dan mahasiswa dari Jepang dan Taiwan belajar membatik di UKWMS.

Surabaya: Delapan orang delegasi asal Jepang dan Taiwan bertandang ke beberapa laboratorium dan jurusan-jurusan di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) demi belajar membatik.

Rombongan terdiri dari dua mahasiswa dan satu dosen asal Osaka Institute of Technology (OIT) dan lima mahasiswa dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST).

Kedatangan mereka untuk menunaikan kerja sama antara UKWMS dengan NTUST dan OIT dalam melaksanakan sistem pembelajaran Problem-Based Learning (PBL) selama tujuh hari yang mengangkat tema The Challenge of Preserving Batik as a Local Cultural Heritage in the Midst of Disruptive Digital Era.



Kerja sama ini diinisiasi Fakultas Teknik, melibatkan Fakultas Ilmu Komunikasi, Fakultas Teknologi Pertanian Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Bisnis serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan serta Fakultas Filsafat di UKWMS.

Profesor dari OIT Masahiro Muraoka mengaku sangat senang bisa berkunjung kembali ke UKWMS dalam rangka PBL.

“Tahun lalu saya dan mahasiswa belajar banyak tentang durian, dan saya yakin bisa belajar lebih banyak lagi tentang batik Indonesia kali ini,” kata Masahiro.

Bersama Masa adalah dua mahasiswa OIT, yakni Nohara Katayama dan Noe Tamaki. Delegasi dari NTUST adalah Liu Jia Hua, Su Chia Sheng, Lee Pei Ju, Wu Xin Ping dan Liao Tzu Yu, rata-rata sedang menjalankan tahun kedua dan ketiga dalam masa perkuliahan mereka.

“Ini merupakan kali kedua PBL diadakan. Jika tahun lalu delegasi-delegasi ini kami ajak untuk ‘mabuk durian,’ kali ini kami ingin mengenalkan betapa indah, mendalam dan bermanfaatnya kesenian batik Indonesia ini,” ujar Kepala Kantor Urusan Internasional UKWMS Erlyn Erawan.

Erlyn menambahkan bahwa UKWMS merasakan keprihatinan karena ‘anak-anak zaman now’ lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggunakan gawai mereka. Digitalisasi memang perwujudan kemajuan peradaban manusia, namun di sisi lain generasi muda tetap perlu diajak untuk menghargai betapa kaya dan berharganya warisan budaya bangsa ini.

PBL juga diwujudkan dalam bentuk pemberian seminar singkat mengenai motif-motif batik khas kedaerahan, mulai dari filosofinya, hingga pemaparan tentang resiko kesehatan yang dihadapi oleh para pengrajin batik tulis.



Setiap seminar selalu dilanjutkan dengan ajang diskusi untuk mencari solusi bagi setiap permasalahan yang didapati dari proses industri Batik Indonesia.
 
Pada hari ketiga PBL, Kamis, 8 Februari 2018, para tamu bergabung langsung dalam praktikum pemanfaatan pewarna alami dari bahan alam asli Indonesia seperti kayu secang, teh, kopi, daun suji, daun jati, kunyit, daun jambu, sabut kelapa dan bunga telang untuk membuat batik dengan teknik ikat celup di Fakultas Farmasi UKWMS.

“Kami ingin mengenalkan salah satu faktor dalam batik dan proses membatik, yaitu pewarna alami dari kekayaan alam Indonesia yang menjadi ciri khas dan kelebihan batik Indonesia,” papar F.V. Lanny Hartanti, pemateri dan instruktur praktikum.

Dalam praktikum bersama ini, seluruh peserta PBL sebanyak 27 orang dari tiga universitas dan tiga negara tersebut belajar mengenai pewarna alami, metode preparasi pembuatannya, serta kelebihan dan kekurangan pewarna alami dibanding perwarna sintetis.

Mempraktikan pewarnaan kaos dengan pewarna alami menggunakan teknik ikat-celup atau tie-dyes, para mahasiswa ini dapat merasakan secara langsung pengalaman menjadi pengrajin batik Indonesia dalam versi sederhana.

Tujuan dari praktikum ini adalah memperkenalkan salah satu faktor dalam batik dan proses membatik, yaitu pewarna alami dari kekayaan alam Indonesia yang menjadi ciri khas dan kelebihan Batik Indonesia.

Batik jumputan dibuat dengan melakukan tiga tahapan. Tahapan yang pertama adalah pembersihan materi pabrik pada kaos atau kain dengan cara dicuci dan dikeringkan selama semalam.


F.V. Lanny Hartanti, pemateri dan instruktur praktikum.

Kemudian pada tahapan kedua bahan-bahan tanaman yang akan dijadikan bahan pewarna harus dihancurkan terlebih dahulu dan melalui proses ekstraksi dengan direbus dan disaring. Setelah melalui dua tahapan tersebut barulah kaos bisa diberikan warna sesuai dengan motif yang diinginkan.

Lee Pei Ju, peserta PBL dari Taiwan tidak menyangka bahwa pewarna alami yang digunakan untuk membuat batik hari ini ternyata juga bisa dipergunakan untuk membuat kosmetika seperti lipstik, blush on dan eye shadow. "Sungguh menarik dan luar biasa.”

Lulu, sapaan Lee Pei Ju, mengatakan dirinya bersyukur bisa belajar membuat batik jumputan serta mengetahui makna di balik motif-motif yang ada pada kain batik Indonesia.

Ia mengatakan bahwa di Taiwan Utara juga ada kebudayaan membuat kain yang disebut Lan Ran, mirip dengan batik jumputan ala Indonesia namun warnanya hanya biru, bukan warna warni seperti Batik Indonesia.

Melalui ajang PBL ini, UKWMS berharap tidak hanya dapat berbagi ilmu dan pengalaman dengan rekanan dari Jepang dan Taiwan, namun juga dengan masyarakat luas.


(TRK)

KPK Dalami Dugaan Pencucian Uang Novanto

KPK Dalami Dugaan Pencucian Uang Novanto

1 day Ago

Saat ini proses persidangan masih fokus pada penyelesaian perkara korupsi KTP elektronik yang d…

BERITA LAINNYA