Moeldoko Bantah Intelijen Kecolongan

   •    Selasa, 15 May 2018 11:47 WIB
terorismeTeror Bom di Surabaya
Moeldoko Bantah Intelijen Kecolongan
Polisi menghentikan dan memeriksa warga yang melintas di Jalan Niaga Samping setelah terjadi ledakan di Polrestabes Surabaya, Jawa Timur. (Foto: ANTARA/Didik Suhartono)

Jakarta: Banyak pihak menyebut intelijen negara ceroboh, lalai, bahkan kecolongan atas insiden kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, dan serangan bom di sejumlah gereja di Surabaya, Jawa Timur. 

Kepolisian dan lembaga terkait dianggap selalu selangkah di belakang kelompok teroris lantaran tak mampu menghalau aksi teror yang sangat jarang tidak menimbulkan korban jiwa.

Menanggapi hal tersebut Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (purn) Moeldoko membantah bahwa pemerintah kecolongan. Dia berdalih perubahan pola serangan teroris lah yang membuat sejumlah aksi teroris tidak terpantau dengan baik.

"Jangan buru-buru berkesimpulan seperti itu. Kepolisian sudah memantau tapi teroris juga mengembangkan pola baru yang lebih tertutup. Contoh, menggunakan satu keluarga dalam tindakan aksi, ini modus baru," ujarnya, dalam Metro Pagi Primetime, Selasa, 15 Mei 2018.

Moeldoko mengatakan kepolisian memahami pola serangan dan memiliki data intelijen tentang sel-sel teroris. Hanya saja tidak bisa melakukan tindakan penangkapan lantaran payung hukum yang terbatas. 

Namun belum maksimalnya payung hukum terhadap kejahatan terorisme tak membuat pemerintah mati langkah. Kepolisian terutama, kata dia, sudah sering melakukan upaya-upaya pencegahan.

Menurut Moeldoko, pelibatan satu keluarga dalam aksi teror di Jawa Timur membuktikan adanya pergeseran pola serangan. Teror bom bunuh diri kerap dilakukan oleh perseorangan namun kali ini justru dilakukan oleh satu keluarga.

"Ini metode (serangan) baru yang harus dikembangkan di kepolisian dan intelijen. Pola serangan menggunakan kendaraan juga membuat polisi menghadapi kondisi yang sulit. Saya pikir ada alasan yang mendasari itu, jangan buru-buru mengatakan intelijen kecolongan," ungkap dia.

Moeldoko mengatakan pemerintah bersama dengan kepolisian dan intelijen negara akan melakukan evaluasi metode penanganan kasus terorisme terhadap prosedur kerja yang telah berjalan dan metode serangan yang dilakukan oleh lawan. 

Dengan begitu langkah lanjutan yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam menghadapi kasus terorisme bisa disesuaikan dengan pola serangan yang sudah ada atau bisa dikalkulasikan sebagai potensi serangan baru yang dikembangkan jaringan teroris.

"Optimalisasi kegiatan dan langkah taktis di lapangan yang dijalankan kepolisian itu yang perlu kita evaluasi termasuk metode yang dikembangkan lawan terhadap prosedur kerja kita," jelas Moeldoko.




(MEL)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

5 days Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA