Survei Dugong dan Lamun di Gosong Beras Basah

K. Yudha Wirakusuma    •    Jumat, 13 Apr 2018 14:37 WIB
hewan dilindungi
Survei Dugong dan Lamun di Gosong Beras Basah
Peneliti dari Yayasan Lamun Indonesia Juraij di Gosong Beras Basah, Desa Teluk Bogam, Kecamatan Kumai, Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng)--Medcom.id/K Yudha Wirakusuma

Pangkalan Bun: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama WWF-Indonesia menyurvei lamun (pakan dugong) dan dugong (Dugong dugon). Suvei dilakukan di Gosong Beras Basah, Desa Teluk Bogam, Kecamatan Kumai, Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng).

Survei adalah bagian dari Program Konservasi Dugong dan Lamun (Dugong and Seagrass Conservation Project/DSCP. "Dalam rangka meningkatkan efektivitas konservasi dugong dan ekosistem lamun," kata Kepala Seksi Perlindungan Jenis Ikan Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut-Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut-KKP, Sukendi Darmasyah, Kamis, 12 April 2018. 
 
DSCP diinisiasi oleh UNEP-CMS tahun 2011 dengan project regional Indonesia, Madagaskar, Malaysia, Mosambik, Srilangka, Timor Leste, Vanuatu, dan Kepulauan Solomon. Fase implementasi di tingkat regional Januari 2015-Desember 2018. "Sedangkan implementasi di Indonesia Januari 2016-September 2018," ucapnya. 


Ilustrasi dugong. Foto: MI/Sheyka Nugrahani Fadela.

Marine Species Officer WWF-Indonesia Cassandra Tania mengatakan, beberapa pihak tengah melakukan transek lamun di sekitar Gosong Beras Basah, Kotawaringin Barat, Kalteng. "Ada WWF, Yayasan Lamun Indonesia, Universitas Antakusuma dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Tengah," ucapnya. 

Dia mengatakan, selain transek lamun tim juga mensurvei keberadaan mamalia laut yang dilindungi tersebut. Karena keberadaan dugong tidak akan jauh dari lamun.

Baca: Belasan Dugong Beraktivitas di Gosong Beras Basah

Kegiatan survei juga dibantu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Peneliti dari Yayasan Lamun Indonesia Juraij mengatakan tujuan awal melakukan survei dugong dan lamun untuk melihat kondisi di daerah yang dicadangkan. Dia berharap kawasan tersebut menjadi Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Taman Wisata Perairan Senggora Sepagar dan Laut Sekitarnya seluas 61.362,15 hektare (ha) oleh Pemerintah Provinsi Kalteng.

"Tapi sejauh ini belum bisa lihat kondisinya seperti apa karena keruh dan berarus. Karena saat ini musim peralihan angin dari barat ke timur," ujar dia.

Dia mengatakan, tim akan melakukan transek lamun di tiga pos berbeda. Luasanya 25x100 meter persegi (m2). 

Langkah ini untuk identifikasi jenis-jenis lamun. Kemudian menghitung jumlah individu atau tegakan, presentase penutupan dari masing-masing jenis atau spesies pada transek.

Baca: Sepenggal Cerita Pemburu Dugong

Pada lokasi di ujung timur Gosong Beras Basah yang sering disebut titik bantalan. Dia mengatakan ditemukan dua jenis lamun yang digemari dugong, yakni Halodule uninervis dan Halophila ovalis.

Menurut dia, di lokasi ini pernah ditemukan feeding track dugong di 2016 dan 2017. Survei kali ini juga ingin mengetahui apakah masih ada feeding track atau mungkin ditemukan pula yang baru. Jika ternyata ditemukan artinya masih ada keberadaan dugong di perairan tersebut. 


(YDH)