Kronologi Penyerangan Kantor Kementerian Dalam Negeri

Deny Irwanto    •    Kamis, 12 Oct 2017 10:29 WIB
penyerangan kantor kemendagri
Kronologi Penyerangan Kantor Kementerian Dalam Negeri
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono--MI/ROMMY PUJIANTO

Metrotvnews.com, Jakarta: Sekelompok orang yang diduga dari Tolikara, Papua, melakukan pengrusakan dan pengeroyokan di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu 11 Oktober 2017. Massa menyambangi kantor itu sejak pagi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, massa mengatasnamakan Barisan Merah Putih Papua. "Sebanyak 15 orang pimpinan Wati Martha Kogoya. Maksud dan tujuan kedatangan massa aksi adalah melakukan pengawasan dan sweeping terhadap tamu orang Papua yang masuk ke kantor Kemendagri dan melarang untuk masuk apapun kepentingannya," kata Argo kepada Metrotvnews.com, Kamis 12 Oktober 2017.

Argo menjelaskan, pada hari yang sama, sekitar pukul 09.40 WIB juga datang massa dari Spontanitas Masyarakat Kabupaten Yapen, Intan Jaya dan Tolikara, Papua, sebanyak 15 orang pimpinan Absalom Maniani.

Kedatangan massa pimpinan Absalom bertujuan meminta pihak Kemendagri untuk menyikapi putusan sidang Mahkamah Konstitusi (MK) pada 29 Agustus 2017. Hal itu terkait perselisihan hasil pilkada Kabupaten Intan Jaya. Mereka meminta Kemendagri segera membentuk tim investigasi Pilkada 2017 pada 5 kabupaten di Provinsi Papua.

"Pukul 09.55 WIB dilaksanakan koordinasi dengan Pamdal Kemendagri dengan hasil bahwa perwakilan massa aksi sesuai arahan Bapak Tjahjo Kumolodiagendakan untuk bertemu Dirjen Polpum dan Dirjen Otda. Namun, perwakilan massa aksi diterima oleh Bapak Akmal, pejabat eselon dua, sehingga perwakilan tidak mau," sambung Argo.

Baca: Kemendagri Laporkan Insiden Penyerangan dan Perusakan

Setelah itu, pukul 10.00 WIB, lima orang perwakilan massa Barisan Merah Putih Papua pimpinan Wati Martha Kogoya menerobos masuk ke dalam untuk menemui Dirjen Otda Soni Sumarsono. Hal tersebut dipicu massa aksi yang melihat rombongan mobil Sumarsono memasuki kantor Kemendagri.

Pukul 10.05 WIB, di gedung F Kemendagri ada koordinasi antara Pamdal Kemendagri untuk mengarahkan massa ke lantai IV guna dipertemukan dengan Heru Matador, Direktur Kewaspadaan Nasional.

Namun perwakilan massa tetap menolak. Kemudian massa aksi menuju Ruang tunggu Sumarsono yang berada di lantai VIII. "Pukul 10.56 WIB, Bapak Heru Matador dan Bapak Akmal (Direktur FKDH) menemui perwakilan massa aksi dari Barisan Merah Putih Papua di ruang tunggu tamu Dirjen Otda untuk berdialog. Namun, perwakilan massa aksi tidak mau, hanya mau bertemu dan berdialog langsung dengan Dirjen Otda," beber Argo.

Tak kunjung bertemu Sumarsono, pukul 11.13 WIB perwakilan massa aksi meninggalkan ruang tunggu tersebut dan menuju ruang rapat audiensi unjuk rasa Gedung B untuk menunggu Tjahjo Kumolo.

Belum bertemu Tjahjo, pukul 14.00 WIB, massa diperkenankan bertemu Soni Sumarsono dan Dirjen Polpum Mayjen Soedarmo di ruang rapat unras gedung B. Namun, perwakilan massa aksi Barisan Merah Putih Papua tidak mau menemui karena pimpinannya yang bernama Wati Martha Kogoya sedang keluar.

"Kemudian pukul 14.20 WIB, Dirjen Otda Bapak Soni Sumarsono tiba di Gedung B dan menuju ruang rapat unras. Karena Ibu Wati Martha Kogoya sedang keluar, karena menunggu lama dan sudah mendekati waktu salat Asar, Dirjen Otda menuju lantai 5 untuk salat," ungkap Argo.

Pukul 15.00 WIB, Wati Martha Kogoya yang ditunggu datang ke ruangan. Saat itu Sumarsono masih belum kembali dari menunaikan salat. Massa tidak sabar menunggu dan melakukan pengerusakan. "Pukul 15.05 WIB massa dari Barisan Merah Putih Papua sebanyak 30 orang masuk dari pintu depan dan melakukan penganiayaan dan pengrusakan terhadap fasilitas kantor," kata Argo.



Pukul 15.20 WIB, massa bisa dihalau oleh pihak kepolisian, Pamdal dan Pegawai Kemendagri yang baru selesai melaksanakan salat Asar. Kemudian massa keluar ke arah Jalan Perwira, Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Polisi sudah menangkap 15 oknum dari massa. Belasan orang tersebut masih diperiksa secara intensif di Mapolda Metro Jaya.


(YDH)